Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama dua bulan dalam konferensi pers di Gedung Putih, Sabtu (2/5/2026). Penolakan ini menandakan kebuntuan negosiasi tetap berlanjut meskipun kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026.
Dilansir dari Money, belum ada kepastian mengenai jadwal pertemuan lanjutan setelah pembicaraan singkat yang dimediasi oleh Pakistan bulan lalu. Trump mengakui adanya keinginan Teheran untuk mencapai kesepakatan, namun isi dokumen tersebut dinilai belum memenuhi ekspektasi Washington.
"Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump memberikan catatan bahwa struktur kepemimpinan di Iran saat ini tidak solid dan terbagi dalam beberapa faksi. Hal tersebut menurutnya menjadi faktor penghambat utama dalam proses perundingan yang sedang berjalan.
"Apakah kita ingin menghancurkan mereka sepenuhnya, atau mencoba membuat kesepakatan?" kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Presiden AS tersebut menambahkan bahwa ia secara kemanusiaan lebih memilih jalur diplomasi dibandingkan opsi serangan militer tambahan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi merespons dengan menyatakan bahwa pintu diplomasi masih terbuka bagi pihak Washington.
Araqchi menekankan bahwa kemajuan perundingan hanya bisa dicapai jika Amerika Serikat mengubah pendekatan mereka. Teheran menuntut penghentian retorika ancaman serta tindakan provokatif yang selama ini dilakukan pihak AS.
Meski mengedepankan negosiasi, Araqchi menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam posisi siaga penuh guna mengantisipasi segala kemungkinan ancaman. Situasi ini diperumit dengan isu blokade Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.
Salah satu poin krusial dalam proposal Iran adalah tawaran pembukaan kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Syaratnya, Amerika Serikat harus mencabut blokade total dan menghentikan seluruh serangan terhadap wilayah mereka.
Ketegangan ini berdampak langsung pada fluktuasi pasar energi global, di mana harga minyak mentah Brent terkoreksi satu persen ke level 108ÔÇô109 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat (1/5/2026). Penurunan harga terjadi karena pelaku pasar bersikap waspada menunggu hasil akhir konflik.
Di tingkat internasional, Duta Besar China untuk PBB Fu Cong mendesak semua pihak untuk mempertahankan gencatan senjata. Isu pembukaan Selat Hormuz diperkirakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump mendatang.