Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam bakal melancarkan serangan militer baru terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan apabila pembicaraan damai yang sedang berlangsung gagal mencapai kesepakatan.
Ancaman tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih pada Selasa (19/5) waktu setempat, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia. Ketegangan kedua negara kembali memanas setelah Trump mengklaim sempat menahan operasi militer besar demi membuka ruang diplomasi.
"Saya hanya berjarak satu jam dari perintah serangan besar. Tetapi saya menundanya," kata Presiden AS Donald Trump.
Menurut Trump, posisi Iran saat ini sedang tertekan sehingga mulai menunjukkan iktikad untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington. Kendati demikian, opsi penggunaan kekuatan militer masih tetap terbuka lebar.
"Anda tahu bagaimana rasanya bernegosiasi dengan negara yang sedang Anda kalahkan. Mereka datang ke meja perundingan dan memohon untuk membuat kesepakatan," ujar Presiden AS Donald Trump.
Pemerintah AS memberikan tenggat waktu yang singkat untuk menentukan arah negosiasi ini. Trump mengisyaratkan bahwa keputusan akhir terkait peluncuran serangan baru akan diambil antara akhir pekan ini atau awal pekan depan.
"Saya berharap kita tidak perlu perang. Tetapi mungkin kami harus memberi mereka pukulan besar lagi. Saya belum yakin," kata Presiden AS Donald Trump.
Gencatan senjata antara kedua negara sejatinya telah berlangsung sejak April lalu, tetapi situasi di kawasan Teluk belum sepenuhnya mereda. Trump menyebut penentuan sikap ini hanya tinggal menunggu hitungan hari.
"Bicara soal dua atau tiga hari, mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal pekan depan," kata Presiden AS Donald Trump.
Ancaman militer dari Gedung Putih tersebut langsung mendapat respons keras dari pihak Teheran. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa pasukannya siap membuka front pertahanan baru apabila Amerika Serikat merealisasikan serangan tersebut.
"Kami akan membuka front-front baru melawan Amerika Serikat bila serangan kembali dilakukan," ujar Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia.
Pihak militer Iran mengaku telah memanfaatkan periode gencatan senjata untuk memperkuat kapasitas tempur mereka. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan mengklaim pertahanan udara mereka berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 milik AS untuk pertama kalinya.
"Jika perang kembali terjadi, akan ada lebih banyak kejutan," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Di tengah situasi yang memanas, internal pemerintahan Amerika Serikat masih menunjukkan harapan pada jalur diplomasi. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa komunikasi yang terjalin dengan pihak Iran sejauh ini masih menunjukkan indikator positif.
"Banyak kemajuan positif sedang terjadi. Kami akan terus bekerja sampai tercapai kesepakatan atau tidak sama sekali," ujar Wakil Presiden AS JD Vance.
Konflik yang berlarut-larut ini mulai berdampak pada situasi domestik Amerika Serikat, ditandai dengan lonjakan harga bahan bakar akibat ketidakstabilan di Teluk serta kejenuhan publik menjelang pemilu kongres November mendatang. Sementara itu, Iran menetapkan sejumlah syarat dalam negosiasi, meliputi pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset yang dibekukan, hingga kompensasi perang.