Suara gemuruh air kini lebih sering terdengar daripada deru aktivitas tambang pasir di Desa Potorono, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dulu, tempat ini menjadi lokasi warga untuk mencari pasir di Sungai Mrowe, namun kini wajahnya telah berubah total menjadi destinasi wisata yang dipenuhi tawa pengunjung dan geliat usaha kecil masyarakat setempat.
Perjalanan Potorono sebagai desa wisata bermula ketika dibentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Potorono pada Desember 2017. Kala itu, fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas dengan hanya mengandalkan sebuah embung yang menjadi maskot utama. Namun, semangat kolektif warga untuk mengubah nasib dan mengembangkan potensi desa tidak pernah surut hingga akhirnya menarik perhatian program pemberdayaan Desa BRILian pada tahun 2021.
Sentuhan Transformasi Desa BRILian
Kehadiran program pendampingan menjadi titik balik bagi tata kelola wisata di desa ini. Pengelola mulai berani melakukan ekspansi wahana dan penataan kawasan yang lebih profesional guna menarik minat wisatawan yang lebih luas.
"Itu di tahun 2021 kalau tidak salah. Saat itu kami baru punya telaga desa. Baru satu itu. Setelah itu, kami bersama pengurus semangat karena didampingi BRI menjadi Desa BRILian," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Pendampingan tersebut memicu lahirnya berbagai wahana baru yang ikonik. Area yang dulunya gersang kini mulai bersalin rupa dengan hadirnya fasilitas edukasi dan rekreasi keluarga yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa melalui BUMDes.
"Setelah didampingi BRI masuk, alhamdulillah berkembang. Ada Taman Dinasaurus, tadi bisa melihat bagaimana BRI masuk di kami, membantu UMKM, memasang gapura, dan lain-lain. Sehingga usaha-usaha kami bertambah," ujar Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Inovasi tidak berhenti pada satu titik saja. Pengelola terus melihat potensi alam lainnya, termasuk aliran sungai yang melintasi desa, untuk dijadikan daya tarik wisata air yang menantang sekaligus menghibur bagi para pelancong.
"Setelah dinasaurus, kami mengembangkan susur sungai dengan kapal. Yang terbaru adalah umbul, kolam renang Itu pun BRI masih membantu kami dalam pendampingan, pemberian support," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Bagi Sutardi, keterlibatan dalam program pemberdayaan memberikan wawasan baru dalam manajemen keuangan dan pengembangan bisnis perdesaan. Ia melihat masa depan yang lebih cerah bagi Potorono melalui kolaborasi berkelanjutan.
"Inilah dampak ikut Desa BRILian 2021. Kalau diikutkan lagi pada tahun 2026-2027 kami lebih siap, karena sekarang sudah lebih lengkap," ujar Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Dampak pengembangan fisik ini terlihat nyata pada kesehatan finansial desa. Pada masa awal pendampingan di tengah pandemi, pendapatan yang dihasilkan masih sangat minim dan terbatas pada pengelolaan satu titik wisata saja.
"Saat kami mengikuti Desa BRILian, saat didampingi kami punya satu embung. Omset kami baru Rp100 juta itu 2021. Setahun itu. Karena mungkin masih awal, masa-masa pandemi," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Perubahan drastis terjadi hanya dalam hitungan beberapa tahun. Dengan bertambahnya wahana seperti Umbul Potorono, Potorono Edu Park, hingga Wahana Susur Sungai, pundi-pundi pendapatan desa meningkat hingga belasan kali lipat dari angka semula.
"Ahamdulillah tahun 2025 kemarin kami tutup buku omset kami Rp1,6 miliar. Alhamdulillah ini perjuangan teman-teman semua," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Yang lebih membanggakan, pertumbuhan ekonomi ini tidak hanya dinikmati oleh kas desa, tetapi juga merembet ke dapur warga. Mantan penambang pasir kini beralih profesi menjadi bagian dari ekosistem wisata, baik sebagai tenaga operasional maupun pelaku UMKM.
"Dulu awalnya warga kami pencari pasir dari Sungai Mrowe. Setelah kami dirikan wisata, kemarin mencari pasir dan menjadi petambang, sekarang membantu kami di operator hingga parkir. Istrinya berjualan UMKM itu ada, sama anaknya," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Keberadaan wisata ini menciptakan lapangan kerja baru yang lebih berkelanjutan bagi penduduk lokal. Saat ini, puluhan unit usaha mikro tumbuh subur di sekitar area wisata, menyediakan lapangan kerja bagi puluhan kepala keluarga.
"Inilah dampak adanya desa wisata yang kami kembangkan, UMKM tumbuh, ekonomi di desa tumbuh. Alhamdulillah UMKM yang kami kelola di desa wisata itu hampir 75 UMKM," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Digitalisasi di Pelosok Desa
Modernisasi di Desa Potorono tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga sistem transaksi. Pengelola menyadari bahwa wisatawan masa kini menginginkan kemudahan dalam setiap pembayaran, sehingga teknologi keuangan mulai diadopsi secara masif.
"Alhamdulillah semua pakai BRI, kalau kita lihat pembayaran naik dinosaurus, naik kapal, kano, itu kan pakai QRIS BRI," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Selain memudahkan pengunjung, sistem digital ini memungkinkan transparansi keuangan bagi pengelola BUMDes. Di sisi lain, kehadiran agen perbankan di tengah desa juga mendekatkan layanan finansial bagi warga yang membutuhkan akses cepat tanpa harus pergi ke pusat kota.
"Kami juga di toko oleh-oleh Bumdes tadi, juga menjadi agen BRI Link. Ini untuk memudahkan masyarakat ingi transfer juga ingin ambil uang di situ Ya semakin dekat dengan nasabah, akan mempermudah setiap yang kita lakukan kan itu," kata Sutardi, Direktur BUMDes Potorono.
Komitmen Kerja Sama Berkelanjutan
Keberhasilan Potorono tidak lepas dari sinergi yang kuat antara pihak desa dan penyedia layanan keuangan. Dukungan yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari infrastruktur hingga komunikasi yang intens untuk memecahkan kendala di lapangan.
"Kami beberapa kali sudah sounding dengan kelurahan. Menjalin komunikasi dan kerja sama. Ada beberapa yang kami support juga," kata Irhan Anshori, Kepala BRI Unit Baturetno.
Harapannya, pola kemitraan ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain untuk menggali potensi lokal mereka. Kolaborasi yang erat menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan destinasi wisata di masa depan.
"Harapannya tetap terjalin dengan kami, kami bisa lebih intens komunikasi dengan Potorono. Sehingga potensi-potensi yang ada bisa kembangkan bersama," kata Irhan Anshori, Kepala BRI Unit Baturetno.
Di Potorono, perubahan dari desa tambang pasir yang berdebu menjadi kawasan wisata produktif adalah bukti nyata bahwa dengan manajemen yang tepat dan dukungan mitra yang kuat, ekonomi warga bisa melesat jauh melampaui ekspektasi semula.