Gejala ADHD Bertransformasi Jadi Masalah Atensi dan Emosi pada Dewasa

Gejala ADHD Bertransformasi Jadi Masalah Atensi dan Emosi pada Dewasa
Foto: Ilustrasi Gejala ADHD Bertransformasi Jadi Masalah Atensi dan Emosi pada Dewasa.

Gejala gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dilaporkan mengalami transformasi dari hiperaktivitas fisik pada masa kanak-kanak menjadi masalah regulasi emosi dan gangguan atensi saat memasuki usia remaja hingga dewasa. Fenomena perubahan manifestasi klinis ini dikonfirmasi oleh para pakar kesehatan mental pada Jumat (10/4/2026).

Dilansir dari Megapolitan, psikolog pemerhati ADHD, Anita Chandra, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari neurodevelopmental disorder yang memengaruhi fungsi neurotransmitter di otak. Rendahnya kadar dopamin pada individu dengan ADHD menyebabkan mereka terus mencari stimulasi baru dan sering kali mengalami kesulitan dalam mengatur waktu.

"ADHD bukan penyakit dan bukan hanya masalah perilaku. Ini terkait dengan perbedaan proses di dalam otak, terutama fungsi neurotransmitter," ujar Anita Chandra, Psikolog pemerhati ADHD. Ia menambahkan bahwa pada orang dewasa, gejala lebih dominan muncul dalam bentuk pikiran yang tidak berhenti dan kecenderungan melakukan penutupan gejala atau masking di lingkungan sosial.

Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, menegaskan bahwa perubahan gejala yang menjadi lebih subtil sering kali menyebabkan keterlambatan diagnosis pada orang dewasa. Masalah seperti prokrastinasi dan rasa mudah kewalahan sering kali disalahartikan oleh lingkungan sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya disiplin.

Dampak psikologis dari keterlambatan penanganan ini mencakup risiko kecemasan, depresi, hingga kondisi learned helplessness. Ratih menyebutkan bahwa stigma negatif dari lingkungan sering kali memberikan beban yang lebih berat bagi pengidap dibandingkan dengan gejala medis ADHD itu sendiri.

Di sektor pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, menyatakan bahwa anak dengan ADHD dikategorikan sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang berhak atas pendidikan inklusif sesuai Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023. Pemerintah berupaya menerapkan pendekatan pembelajaran fleksibel seperti penyederhanaan tugas dan penggunaan metode visual.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengonfirmasi bahwa layanan kesehatan jiwa untuk ADHD saat ini sudah tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan seperti RSUD Tarakan dan RSKD Duren Sawit. Layanan terapi dan konsultasi psikiater untuk kondisi ini juga telah diakomodasi melalui skema BPJS Kesehatan sesuai dengan indikasi medis yang ditemukan.

Artikel terkait

Rekomendasi