Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi dinilai sangat berisiko menjadi ruang penularan hantavirus kepada para pekerja pemulung, sebagaimana dilansir dari Lestari pada Sabtu (16/5/2026).
Kondisi lingkungan yang dipenuhi sampah terbuka memicu lonjakan populasi tikus karena menjadi sumber makanan utama bagi hewan pengerat tersebut. Urin, kotoran, dan air liur tikus yang tertinggal pada limbah dapat menguap lalu terhirup oleh manusia di kawasan habitat tikus.
"Sangat berisiko sekali, terutama mungkin kaitannya dengan pekerjaan sebagai pemulung. Ini mungkin high risk untuk bisa tertular ortho hantavirus," ujar peneliti pusat kesehatan masyarakat dan gizi BRIN, Arif Mulyono.
Arif menjelaskan bahwa tumpukan sampah yang tidak dikelola di tempat tertutup dimanfaatkan tikus untuk bertahan hidup dan berkumpul dalam jumlah masif.
"Tikus berkumpul di situ dengan jumlah yang cukup banyak, berak di situ, kencing di situ, mungkin beranak pinak di situ," tutur Arif.
Risiko penularan semakin tinggi akibat aktivitas memilah sampah secara berulang. Berdasarkan studi terdahulu di Kota Semarang pada 2014, kepadatan tikus mencapai 21 persen, melampaui baku mutu Kementerian Kesehatan yang mensyaratkan kurang dari 1 persen.
"Penularan Ortho hantavirus akibat lingkungan yang kurang higienis di mana lingkungan tersebut menyediakan sumber makanan bagi tikus, maupun menyediakan tikus untuk tempat tinggal maupun berkembang biak, sehingga terjadilah kasus-kasus infeksi pada manusia," ucap Arif.
Sebagai virus RNA, ortho-hantavirus memiliki tingkat mutasi yang rendah. Namun, mutasi tetap dapat terjadi ketika virus berpindah ke inang baru di luar inang alamiahnya akibat adanya tekanan imun.
"Jadi, memang ketika virus ini jumping ke bukan inang alamiahnya, seperti tadi yang sudah saya sampaikan, Seoul virus itu dia mempunyai inang alamiah itu Rattus norvegicus atau tikus got. Ketika jumping ke Rattus tanezumi, ini mengalami mutasi karena mungkin ada tekanan imun dari inang baru sehingga dia mutasi dan menghasilkan serang virus seperti itu," tutur Arif.
Kelompok masyarakat tertentu juga memiliki kerentanan tinggi terhadap virus ini. Hal tersebut mencakup petugas kebersihan, tukang sampah, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di daerah banjir, serta orang yang sering berada di lingkungan tertutup dan kotor.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengingatkan adanya beberapa faktor pendukung penyebaran virus ini di Indonesia, seperti tingginya populasi rodensia, banjir musiman, sanitasi perkotaan yang buruk, serta kepadatan pelabuhan dan pergudangan.