Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang memproses revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 pada Rabu (15/4/2026) guna menyesuaikan kebutuhan listrik nasional. Penyesuaian regulasi ini bertujuan agar kebijakan kelistrikan Indonesia menjadi lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan dinamika energi global.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, memberikan konfirmasi mengenai pembahasan penyesuaian tersebut di Gedung DPR. Langkah koreksi terhadap dokumen rencana induk kelistrikan sepuluh tahun ke depan ini dipandang perlu untuk memastikan fleksibilitas aturan pemerintah.
"Ada beberapa memang untuk RUPTL itu yang memang ada koreksilah kira-kira seperti itu. Nah kita lakukan pembahasan. Yang jelas yang seperti saya sampaikan tadi bahwa setiap regulasi kita buat supaya gimana caranya regulasi lebih adaptif lah kira-kira gitu" ujar Tri Winarno, Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM.
Rencana perubahan kebijakan ini pertama kali mencuat saat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengemban tugas sebagai pemimpin Satgas Transisi Energi Baru Terbarukan. Fokus utama dari perombakan ini mencakup percepatan program dedieselisasi serta pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif.
"Dan saya juga akan berencana untuk mengubah RUPTL" kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Bahlil menekankan bahwa peralihan dari pembangkit berbahan bakar solar merupakan langkah krusial untuk menjaga kedaulatan energi nasional. Hal ini didasari oleh ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
"Karena dalam kondisi geopolitik perang ini tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang" beber Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Skema transisi ini akan memprioritaskan pemanfaatan sumber daya domestik agar ketahanan energi tetap stabil di tengah gejolak pasar internasional. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, pemerintah berupaya memaksimalkan konversi energi fosil ke energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
"Karena itu kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri, energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk kita bisa lakukan seperti ini" terang Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Berdasarkan data awal RUPTL 2025-2034 yang sempat diluncurkan pada Mei 2025, total kapasitas pembangkit ditargetkan mencapai 69,5 GW. Proporsi tersebut mencakup 42,6 GW dari Energi Baru Terbarukan (EBT), 10,3 GW sistem penyimpanan energi (storage), dan 16,6 GW energi fosil.
"Dan hasilnya adalah 76% itu menuju kepada energi baru terbarukan. Di mana dari 76% itu kurang lebih sekitar 42, 6 GW itu adalah EBT dan 10,3 itu adalah storage" katanya Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.