Air zamzam telah lama menyandang status sebagai sumber air paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Keistimewaan ini tidak lepas dari kaitan sejarahnya dengan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, serta keberkahan yang sering disebut dalam literatur hadis.
Dikutip dari Cahaya, khazanah keilmuan Islam klasik menyimpan perspektif menarik mengenai hirarki kesucian air. Para ulama membahas adanya air yang memiliki derajat kemuliaan lebih tinggi dibandingkan air zamzam, yang bersumber langsung dari mukjizat kenabian.
Sumur Zamzam yang berlokasi di Masjidil Haram tetap mengalir hingga saat ini untuk melayani kebutuhan jutaan jemaah. Dimensi spiritual air ini sangat kuat, sebagaimana tercermin dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad.
"Air zamzam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya." (HR. Ibnu Majah)
Dalam buku Membumikan Al-QurÔÇÖan, M. Quraish Shihab memaparkan bahwa konsep keberkahan tidak hanya dilihat secara fisik. Hal tersebut juga berkelindan erat dengan sisi keimanan, doa, serta niat tulus dari orang yang mengonsumsinya.
Hirarki Air dalam Pandangan Ulama
Sejumlah ulama klasik mengemukakan pandangan bahwa air yang keluar dari sela-sela jari Rasulullah SAW merupakan air dengan tingkatan tertinggi. Peristiwa mukjizat ini disaksikan langsung oleh para sahabat dalam sebuah riwayat yang sahih.
"Aku melihat air memancar dari sela-sela jari Rasulullah SAW, dan orang-orang berwudhu darinya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kitab Mughni al-Muhtaj karya ulama mazhab SyafiÔÇÖi menjelaskan bahwa Imam al-Bulqini pernah merinci tingkatan keutamaan air. Menurutnya, zamzam adalah air paling utama yang ada di bumi, namun posisinya tetap berada di bawah air yang memancar dari jasad Nabi SAW.
Kitab Hasyiyah Qalyubi wa Umairah serta IÔÇÖanat at-Thalibin juga memberikan urutan keutamaan sebagai berikut:
- Air dari mukjizat jari Nabi SAW menempati posisi teratas.
- Air zamzam berada di urutan kedua.
- Air telaga Kautsar dalam konteks kehidupan akhirat.
- Air dari sungai-sungai besar yang ada di dunia.
Kaitan Teologis dengan Kemuliaan Nabi
Keutamaan air mukjizat ini bersandar pada perspektif teologi bahwa segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan Nabi Muhammad SAW memiliki nilai spiritual tertinggi. Beliau dipandang sebagai perantara utama rahmat Tuhan bagi semesta alam.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menerangkan bahwa kemuliaan sebuah objek sering kali ditentukan oleh kedekatan jaraknya dengan sumber ilahi. Mukjizat yang muncul secara fisik dari tubuh Rasulullah menjadi manifestasi langsung dari kekuasaan Allah yang melampaui fenomena alamiah.
Kedudukan Zamzam di Mata Umat
Meskipun terdapat perdebatan akademis mengenai hirarki tersebut, zamzam tetap memegang peran krusial bagi kehidupan spiritual Muslim. Air ini memiliki karakteristik yang berbeda karena aksesibilitasnya yang bertahan hingga zaman modern.
Syekh Safiurrahman Al-Mubarakfuri melalui Ensiklopedia Mukjizat Nabi Muhammad menegaskan bahwa zamzam merupakan jejak sejarah yang masih bisa dirasakan. Air ini menjadi simbol ketawakalan dan keberkahan yang menyertai ibadah haji serta umrah secara terus-menerus.
Perbedaan sudut pandang mengenai mana air yang paling utama dipandang sebagai kekayaan intelektual dalam tradisi Islam. Fokus utamanya bukan pada persaingan derajat, melainkan pada bagaimana setiap mukjizat mampu mempertebal keyakinan dan kedekatan seorang hamba dengan sang pencipta.