Ahli biologi kelautan berhasil menemukan kerangka paus raksasa yang telah bersih dilahap organisme di kedalaman Samudra Selatan sekitar Antartika. Temuan ini terjadi secara tidak sengaja saat para peneliti menjelajahi wilayah perairan yang sangat dingin dan ekstrem.
Dilansir dari Detik iNET, penemuan tak terduga tersebut memberikan gambaran baru mengenai cara ekosistem laut dalam bertahan hidup tanpa cahaya matahari. Selain mengungkap struktur tulang yang utuh, ekspedisi ini juga berujung pada identifikasi berbagai spesies baru yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Kondisi laut dalam di sekitar Antartika dikenal sangat tidak bersahabat dengan suhu yang berkisar pada titik beku. Karena ketiadaan cahaya untuk proses fotosintesis, organisme di wilayah ini sangat bergantung pada sumber nutrisi alternatif untuk menyambung hidup.
Salah satu sumber energi utama bagi biota laut dalam adalah salju laut yang berupa hujan sisa bahan organik dari lapisan atas. Namun, bangkai paus yang tenggelam menjadi jamuan makan melimpah yang mampu menopang kehidupan selama berbulan-bulan hingga puluhan tahun.
Mencari bangkai di kedalaman laut bukanlah perkara mudah bagi para peneliti. Sebagian besar temuan sebelumnya berada di perairan tropis atau beriklim sedang, sehingga penemuan di Antartika menjadi pencapaian luar biasa dalam sejarah ekspedisi laut dalam.
Penemuan ini dilakukan oleh tim ekspedisi Inggris menggunakan kapal RRS James Cook pada Januari 2010. Tim menggunakan kendaraan bawah laut kendali jarak jauh (ROV) bernama Isis untuk menyisir dasar laut yang terisolasi tersebut.
"Kami baru saja menyelesaikan penyelaman menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh milik Inggris, Isis, ketika kami melihat sekilas deretan bongkahan berwarna pucat di kejauhan, yang ternyata tulang belakang paus di dasar laut," ujar Jon Copley, profesor eksplorasi laut University of Southampton.
Identifikasi Spesies dan Kemosintesis
Kerangka sepanjang 10,7 meter tersebut ditemukan di sebuah kawah bawah laut dekat Kepulauan South Sandwich pada kedalaman 1.444 meter. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa tulang tersebut milik paus minke Antartika (Balaenoptera bonaerensis).
Saat ditemukan, tubuh paus telah mencapai tahap pembusukan lanjut dengan hampir tidak ada sisa daging atau lemak. Bakteri berperan memecah lemak yang tersimpan dalam tulang untuk melepaskan energi kimiawi melalui proses kemosintesis bagi biota laut lainnya.
Setidaknya terdapat sembilan spesies baru yang ditemukan menghuni tulang tersebut, termasuk krustasea isopoda yang mirip kutu kayu bawah air. Peneliti juga menemukan Lepetodrilus, sejenis siput laut yang selama ini belum pernah dideskripsikan oleh ilmuwan.
Fenomena menarik lainnya adalah keberadaan cacing zombi Osedax yang mampu melarutkan tulang paus menggunakan zat asam. Kemampuan makhluk-makhluk kecil ini untuk menemukan habitat terisolasi di luasnya Samudra Selatan masih menjadi tanda tanya besar.
"Salah satu misteri biologi laut dalam terbesar yang masih tersisa adalah bagaimana invertebrata kecil ini dapat menyebar di antara habitat-habitat terisolasi yang ditopang bangkai-bangkai paus dasar laut," tambah Adrian Glover dari Natural History Museum, London.