Telkomsel Bantah Peroleh Keuntungan Finansial dari Sisa Kuota Data

Telkomsel Bantah Peroleh Keuntungan Finansial dari Sisa Kuota Data
Foto: Ilustrasi Telkomsel Bantah Peroleh Keuntungan Finansial dari Sisa Kuota Data.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menegaskan bahwa sisa kuota data pelanggan yang hangus setelah masa berlaku berakhir tidak memberikan nilai keuntungan finansial tambahan bagi perusahaan pada Senin (4/5/2026). Penjelasan ini disampaikan untuk mengklarifikasi pandangan yang menilai mekanisme bisnis penyediaan jasa internet merugikan konsumen.

Dilansir dari Teknologi, perusahaan menyatakan bahwa seluruh biaya pembangunan serta pengoperasian infrastruktur jaringan telah dialokasikan sepenuhnya sejak awal guna menjamin ketersediaan layanan. Infrastruktur tersebut tetap beroperasi penuh tanpa bergantung pada jumlah volume data yang dikonsumsi oleh pengguna.

VP SIMPATI Product Marketing Telkomsel Adhi Putranto memberikan keterangan dalam Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta untuk meluruskan asumsi mengenai pemasukan dari kuota tidak terpakai.

"Sisa kuota tidak menimbulkan keuntungan tambahan karena biaya pembangunan dan pengoperasian jaringan telah dikeluarkan sejak awal," ujar Adhi Putranto, VP SIMPATI Product Marketing Telkomsel.

Manajemen menjelaskan bahwa pendapatan perusahaan merupakan imbalan atas jasa yang disediakan untuk menutup beban investasi. Pembayaran dari pelanggan dipandang sebagai jaminan hak akses terhadap kapasitas jaringan dalam periode waktu tertentu, sehingga tidak ada pencatatan nilai keuangan khusus atas volume data sisa.

Selain masalah finansial, Telkomsel juga menyoroti risiko teknis jika batasan waktu pada layanan internet berbasis kuota dihapuskan. Adhi memaparkan bahwa akses internet merupakan kapasitas bersama (shared capacity) yang distribusinya harus dikelola secara terukur agar tidak terjadi dominasi oleh pihak tertentu.

Keberadaan batas waktu tersebut diklaim sebagai instrumen penting untuk mencegah lonjakan beban jaringan yang tidak terprediksi akibat akumulasi volume data. Hal ini berkaitan erat dengan keterbatasan spektrum frekuensi radio sebagai sumber daya alam milik negara.

Secara teknis, pengelolaan trafik data harus tetap berada di bawah ambang batas maksimal menara pemancar (BTS) demi menjaga kualitas layanan publik secara merata. Tanpa batasan waktu, operator akan kesulitan memprediksi profil beban trafik yang berisiko menyebabkan kegagalan transmisi data massal.

Artikel terkait

Rekomendasi