Teleskop Chandra Ungkap Tabrakan Kosmik Purba di Gugusan Galaksi Abell 2029

Teleskop Chandra Ungkap Tabrakan Kosmik Purba di Gugusan Galaksi Abell 2029
Foto: Ilustrasi Teleskop Chandra Ungkap Tabrakan Kosmik Purba di Gugusan Galaksi Abell 2029.

Gugusan galaksi Abell 2029 yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling tenang di alam semesta ternyata menyimpan sejarah gejolak yang masif. Penemuan ini terungkap melalui pengamatan terbaru menggunakan Teleskop Sinar-X Chandra milik NASA, seperti dikutip dari Media Indonesia.

Kota galaksi raksasa yang terletak di rasi bintang Virgo ini menampung lebih dari seribu galaksi yang terikat oleh gravitasi. Wilayah kosmik ini diselimuti oleh awan gas yang sangat panas dan berukuran sangat besar.

Pada bagian pusat gugusan, terdapat IC 1101 yang merupakan salah satu galaksi elips terbesar yang pernah ditemukan. Galaksi elips raksasa ini memiliki diameter bentangan yang mencapai hampir 6 juta tahun cahaya.

Para astronom menganggap Abell 2029 sebagai kawasan yang sangat tenteram sejak era 1990-an. Penilaian ini sempat diperkuat oleh dua penelitian pada tahun 2025 menggunakan observatorium XRISM yang menunjukkan tingkat turbulensi gas yang sangat rendah.

Akan tetapi, studi ketiga dari observatorium XRISM mulai menemukan adanya kantong gas dengan suhu lebih dingin pada atmosfer gugusan tersebut. Keberadaan kantong gas ini mengindikasikan adanya aktivitas dinamika yang tersembunyi.

Data terbaru dari Teleskop Sinar-X Chandra kini memberikan bukti baru mengenai sejarah kelam di dalam gugusan tersebut. Tim peneliti memetakan struktur raksasa yang tersembunyi menggunakan 21 pengamatan baru dari tahun 2022 dan 2023, ditambah dengan data arsip terdahulu.

Salah satu temuan yang paling mencolok adalah struktur berbentuk spiral raksasa akibat efek guncangan (sloshing spiral). Struktur gas ini membentang sepanjang hampir 2 juta tahun cahaya dari bagian pusat gugusan galaksi.

"Secara keseluruhan, hasil kami menunjukkan A2029 masih dalam proses stabilisasi dari interaksi masa lalu," kata Courtney Watson.

Pernyataan tersebut tertulis dalam makalah ilmiah yang dipimpin oleh astrofisikawan dari Boston University tersebut. Penelitian ini telah dipublikasikan pada Desember 2025 di jurnal ilmiah The Astrophysical Journal.

"Ini menunjukkan bahwa gugusan yang awalnya terlihat paling tenang sekalipun dapat menyembunyikan sejarah aktivitas dinamika yang kaya," tutur Courtney Watson.

Melalui pemodelan simulasi komputer, para ilmuwan memperkirakan bahwa struktur spiral, gelombang kejut, dan cekungan mirip teluk terbentuk akibat benturan kosmik. Sebuah gugusan galaksi yang berukuran lebih kecil menabrak Abell 2029 sekitar 4 miliar tahun yang lalu.

Tabrakan besar ini memicu gas superpanas di dalamnya berguncang dan berputar di dalam medan gravitasi. Pergerakan gas kosmik ini serupa dengan gerakan cairan anggur saat digoyang di dalam sebuah gelas.

Fungsi Distribusi Panas Kosmik

Guncangan dalam skala masif ini ternyata memegang peran yang sangat penting bagi kondisi interior gugusan. Fenomena tersebut membantu mendistribusikan kembali suhu panas ke seluruh wilayah gas di dalam gugusan galaksi.

Sebelumnya, para ilmuwan menduga pemanasan gas hanya digerakkan oleh energi dari lubang hitam supermasif aktif di pusat galaksi IC 1101. Namun, temuan terbaru dari data satelit ini membuktikan bahwa energi dari aktivitas lubang hitam saja tidak mencukupi.

Riak gelombang yang tersisa dari pascatabrakan purba terbukti memegang andil besar dalam menjaga suhu gas. Mekanisme alami ini menahan gas superpanas di Abell 2029 agar tidak mendingin dalam waktu yang terlalu cepat.

Artikel terkait

Rekomendasi