Taman Safari Bogor Kenalkan Bayi Panda Satrio Wiratama Akhir Mei

Taman Safari Bogor Kenalkan Bayi Panda Satrio Wiratama Akhir Mei
Foto: Ilustrasi Taman Safari Bogor Kenalkan Bayi Panda Satrio Wiratama Akhir Mei.

Kabar gembira datang untuk para pencinta satwa di tanah air. Taman Safari Indonesia (TSI) yang berlokasi di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bersiap memperkenalkan anggota baru mereka berupa seekor bayi panda raksasa yang menggemaskan bernama Satrio Wiratama kepada masyarakat luas.

Seperti dilansir dari Detik Travel, keberhasilan pembiakan spesies langka asal China ini menjadi pencapaian yang sangat signifikan. Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak sejarah penting bagi upaya konservasi satwa di Indonesia.

Dalam sesi pembaruan media, tim medis Taman Safari Indonesia memperlihatkan ketelitian yang luar biasa dalam merawat bayi panda tersebut. Mereka memberikan fokus penuh terhadap setiap detail pertumbuhan serta perkembangan sang bayi panda.

Saat melakukan pemeriksaan berkala terhadap Satrio Wiratama, para dokter hewan dan penjaga satwa yang bertugas diwajibkan mengenakan seragam medis steril berwarna hijau lengkap. Mereka juga mengenakan masker serta penutup kepala untuk menjaga higienitas.

Proses pemeriksaan kesehatan tersebut dilangsungkan di dalam sebuah ruang perawatan khusus berdinding kaca atau inkubator. Di dalam ruangan tersebut, bayi panda yang bulu hitam-putih tebalnya sudah mulai tumbuh itu tampak diamati bersama dengan koleksi mainan panda berbulu.

Bayi panda yang akrab disapa Rio atau Liao ini merupakan panda pertama yang lahir di Indonesia. Berdasarkan data pemantauan pada Jumat (15/5/2026), mamalia kecil ini tampak menikmati batang bambu saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Istana Panda.

Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menjelaskan bahwa satwa panda memiliki daya tarik yang sangat luar biasa di mata dunia. Spesies ini bahkan mempunyai basis penggemar global dalam skala yang sangat besar.

Menurut Aswin Sumampau, kelahiran seekor bayi panda selalu memicu antusiasme tinggi dari masyarakat berbagai negara, termasuk pelancong dari Korea dan Jepang yang rela datang dalam jumlah besar. Namun, di balik kelucuannya, panda memiliki kecenderungan sifat yang ceroboh dan teledor.

"Dan salah satu kelucuan panda itu adalah teledor gitu ya. Jadi kalau tidur kepalanya kadang di bawah, kadang jatuh sendiri, kadang ngguling," ungkap Aswin kepada awak media di Taman Safari Indonesia Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Karakteristik unik inilah yang kemudian menjadi tantangan utama serta pekerjaan rumah bagi tim dokter hewan. Tim medis yang dipimpin oleh Drh. Bongot Huaso Mulia harus bekerja ekstra untuk memastikan tingkat keamanan pada eksibit atau kandang pajang.

Tantangan ini muncul karena adanya perbedaan adaptasi antara panda dewasa dan bayi panda. Panda dewasa umumnya tidak mengalami masalah serius meskipun terjatuh dari ketinggian 1 hingga 1,5 meter, sedangkan bayi panda masih memerlukan proses belajar secara bertahap.

"Kita coba dulu yang (ketinggian) 80 sentimeter, 90 sentimeter supaya dia tahu kalau jatuh itu rasanya apa, gimana, terus mereka belajar," jelas Aswin.

Keberhasilan program pembiakan Satrio oleh pihak TSI ini pun langsung menuai banyak apresiasi dari berbagai pihak. Vice President Life Science Taman Safari Indonesia, Dr. Bongot Huaso Mulia, menyampaikan bahwa respons dari otoritas China sangat positif terhadap pencapaian ini.

Pihak China secara terbuka mengakui dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh TSI dalam upaya pembiakan spesies endemik mereka. Pemberian nama 'Satrio' sendiri dilakukan pada Desember tahun lalu, tepatnya saat Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menjamu anggota parlemen terkemuka dari China.

Dr. Bongot Huaso Mulia memaparkan bahwa salah satu kendala terbesar dalam penangkaran panda adalah sifat makhluk tersebut yang sangat individualis. Satwa ini memiliki kecenderungan kuat untuk menghindari hidup berkelompok, sehingga proses pencarian pasangan menjadi sangat sulit bahkan di habitat aslinya.

"Apalagi lembaga konservasi seperti kita yang hanya diberi sepasang gitu. Jadi cowoknya nggak bisa milih cewek gitu kan ya. Jadi kalau memang nggak suka ya nggak suka gitu," terang Bongot.

Guna mengatasi hambatan reproduksi alami tersebut, pihak TSI menjalankan studi dan penelitian mendalam mengenai teknologi inseminasi buatan. Program ini melibatkan kolaborasi tim ahli lintas negara yang mencakup pakar dari Eropa, China, dan Indonesia demi merumuskan metode inseminasi paling efektif.

Bagi masyarakat yang ingin melihat langsung tingkah lucu Satrio Wiratama, manajemen TSI telah menyusun jadwal kunjungan publik secara berkala. Pembatasan waktu kunjungan ini diterapkan demi keselamatan bayi panda yang masih rentan.

Kebijakan pembatasan kunjungan dinilai sangat krusial mengingat panda muda berisiko tinggi terjatuh, tidak sengaja memakan akar rumput atau tanah yang berbahaya, serta memiliki imunitas yang masih rentan terhadap paparan virus dan bakteri.

"Nanti untuk publik sendiri kita mendorong untuk di akhir bulan nanti di tanggal 30 untuk sudah bisa dilihat berkala oleh publik. Walaupun mungkin tidak bisa sepanjang hari ataupun ada di luar dan sebagainya, karena sekali lagi itu membutuhkan waktu untuk training," ujar Bongot.

Pada tahap orientasi awal yang dimulai tanggal 30 Mei 2026 mendatang, panda yang juga memiliki nama China Li Ao ini diperkirakan hanya akan tampil di area eksibit dalam durasi singkat, yaitu sekitar 2 hingga 3 jam per hari.

Pihak pengelola Taman Safari Indonesia merasa optimis bahwa memasuki periode bulan Juni dan Juli, bayi panda ini akan berada dalam kondisi yang jauh lebih siap untuk menyambut kedatangan para pengunjung yang datang mengisi masa liburan.

Artikel terkait

Rekomendasi