Bagian pusat planet kita menyimpan misteri besar melalui temperatur ekstremnya. Kedalaman bumi menyimpan suhu yang sangat tinggi hingga menyamai bagian luar matahari, meskipun manusia belum pernah mengebor hingga menembus lapisan kerak terluar.
Lapisan paling dalam ini berada pada kedalaman sekitar 5.100 kilometer di bawah permukaan tanah, seperti dilansir dari Media Indonesia. Komposisi utama pada area ini didominasi oleh material besi dan nikel padat.
Hasil riset geofisika memperkirakan temperatur inti dalam berada pada kisaran 5.400 sampai 6.000 derajat Celsius. Data fantastis tersebut diperoleh lewat integrasi simulasi komputer, percobaan laboratorium, serta pengamatan gelombang seismik.
Para peneliti memanfaatkan pergerakan gelombang gempa yang melewati struktur bumi untuk mengidentifikasi sifat material di dalamnya. Kecepatan gelombang seismik yang berubah drastis menjadi indikator utama dalam membedakan material cair dan padat.
Berdasarkan analisis gelombang tersebut, ilmuwan mengelompokkan pusat planet menjadi dua bagian utama. Inti luar memiliki karakteristik cair dan aktif bergejolak di kedalaman bumi.
Sementara itu, inti dalam tetap mempertahankan bentuk padatnya meski berada di bawah suhu yang sangat tinggi. Tekanan masif di pusat bumi menjadi faktor utama yang memaksa atom logam tetap merapat dan gagal mencair.
Simulasi Tekanan Tinggi Laboratorium
Para ahli menggunakan perangkat khusus untuk merekayasa tekanan ekstrem yang menyerupai kondisi asli di pusat bumi. Melalui eksperimen tersebut, titik leleh besi dapat dipetakan secara akurat.
Studi dari French Alternative Energies and Atomic Energy Commission (CEA) menunjukkan indikasi kuat mengenai titik leleh besi tersebut. Logam besi ditemukan meleleh pada suhu berkisar 6.000 derajat Celsius di bawah tekanan masif inti bumi.
Suhu Ekstrem Menghasilkan Medan Magnet
Panas yang tersimpan di pusat bumi memegang peran krusial bagi keberlangsungan makhluk hidup di permukaan. Aliran logam cair yang terus bergerak di inti luar memicu efek dinamo yang memproduksi medan magnet bumi.
Medan magnet ini beroperasi sebagai tameng tidak terlihat yang membentengi atmosfer dari paparan radiasi mematikan badai matahari. Tanpa adanya sistem proteksi dari panasnya inti planet, peradaban modern tidak akan pernah terbentuk di bumi.
Riset dari Universitas Nasional Australia turut menyingkap tabir baru mengenai struktur terdalam ini. Berdasarkan studi pada 14 Januari 2025, bagian inti dalam bumi yang selama ini dianggap tunggal diduga kuat terbagi menjadi dua lapisan yang berbeda.