Studi Terbaru Ungkap Memori Masa Bayi Tersimpan Permanen di Otak

Studi Terbaru Ungkap Memori Masa Bayi Tersimpan Permanen di Otak
Foto: Ilustrasi Studi Terbaru Ungkap Memori Masa Bayi Tersimpan Permanen di Otak.

Kebanyakan orang tidak mampu mengingat peristiwa yang terjadi sebelum berusia tiga atau empat tahun. Fenomena medis ini dikenal sebagai infantile amnesia atau amnesia bayi.

Dilansir dari Media Indonesia, sebuah riset terbaru terhadap tikus dalam jurnal Neuron berhasil membantah teori lama bahwa ingatan masa kecil hilang tanpa bekas karena otak bayi belum berkembang.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ingatan masa bayi sebenarnya tetap bertahan di dalam otak. Memori ini membentuk cetakan tersembunyi yang memengaruhi proses belajar saat individu beranjak dewasa.

Tikus laboratorium memiliki pola melupakan ingatan yang serupa dengan manusia. Seekor anak tikus dapat mempelajari sesuatu pada usia 3 minggu, tetapi ingatan itu tampak hilang dari perilakunya sebulan kemudian.

Dalam eksperimen ini, tim peneliti melatih tikus muda di dalam ruang khusus dengan memberikan kejutan listrik kecil di kaki agar mereka belajar bahwa tempat tersebut tidak aman.

Beberapa minggu kemudian, respons ketakutan berupa membeku yang menandakan adanya ingatan mulai memudar. Saat diuji kembali setelah dewasa atau 60 hari kemudian, tikus-tikus tersebut tidak lagi menunjukkan rasa takut.

Namun, kondisi berubah ketika peneliti memberikan rangsangan kecil. Tikus dewasa dimasukkan kembali ke ruang eksperimen asli untuk kunjungan singkat tanpa kejutan listrik.

Hasilnya, beberapa hari kemudian, tikus-tikus tersebut kembali menunjukkan respons ketakutan yang kuat di ruangan itu. Ingatan masa kecil mereka berhasil dipicu kembali oleh petunjuk lingkungan yang sama.

Sebelumnya, bagian otak bernama hipokampus selalu dianggap sebagai penjaga gerbang memori. Namun, studi dari laboratorium Cristina M. Alberini, profesor di New York University (NYU), menemukan arah baru.

Ketika para peneliti melacak neuron yang aktif, mereka menemukan bahwa memori masa kecil tersebut justru disimpan dan dipulihkan oleh korteks prefrontal. Wilayah otak di belakang dahi ini berfungsi mengatur perencanaan dan penilaian.

Saat peneliti menonaktifkan neuron di korteks prefrontal, memori tersebut gagal muncul kembali. Sebaliknya, menonaktifkan neuron di hipokampus tidak memberikan pengaruh yang sama.

Otak Tidak Pernah Benar-Benar Lupa

Kejutan lain dari penelitian ini adalah tikus dewasa yang ingatan masa kecilnya berhasil dipicu, mampu mempelajari hal-hal baru yang berkaitan dengan lebih cepat.

Tim Alberini menyebut fenomena ini sebagai memory schema atau skema memori. Skema ini menjadi semacam cetakan sejak masa bayi yang akan digunakan kembali oleh otak ketika menghadapi situasi serupa di masa dewasa.

Pola unik ini tidak ditemukan pada tikus yang baru mendapatkan pelatihan saat sudah dewasa. Temuan ini membawa implikasi penting bagi perkembangan anak.

Meskipun peristiwa di tiga tahun pertama kehidupan mustahil diingat secara sadar, pengalaman dan lingkungan masa kecil tersebut tidak pernah terhapus. Pengalaman dini itu tetap hidup permanen sebagai lapisan struktur senyap di dalam otak.

Artikel terkait

Rekomendasi