Seorang penyintas gangguan perkembangan saraf Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Justito Adiprasetio (37), membagikan mekanisme koping mandiri dalam mengelola gejala sulit fokus dan pikiran konstan pada Senin (30/3/2026). Tito baru mendapatkan diagnosis medis secara pasti saat berusia 30 tahun setelah sebelumnya sempat salah terdiagnosis akibat keterbatasan riset medis di masa lalu.
Pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut mengaku mengalami kesulitan untuk berhenti berpikir bahkan saat sedang beristirahat. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, kondisi ini membuatnya mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar sehingga menghambat produktivitas sehari-hari jika tidak dikelola dengan tepat.
"Pikiran saya konstan bekerja. Mungkin orang menyebutnya overthinking, tetapi dalam kasus saya, pikiran itu tidak bisa berhenti bahkan saat istirahat," kata Justito Adiprasetio, penyintas ADHD dewasa. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak pernah merasakan pengalaman melamun kosong seperti orang pada umumnya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Tito menerapkan strategi konsumsi kopi dalam takaran tertentu guna meningkatkan konsentrasi. Namun, ia membatasi asupan kafein agar tidak mengganggu pola tidur, karena kurang tidur dapat memicu ketidakstabilan emosi dan suasana hati yang sulit dikendalikan.
Selain kopi, aktivitas fisik seperti lari dan mendaki gunung menjadi metode regulasi emosi yang efektif baginya. Olahraga intensitas tinggi membantu tubuhnya mencapai titik lelah yang cukup sehingga ia bisa tertidur meski pikirannya tetap aktif bekerja.
Langkah ini diambil sebagai alternatif untuk menghindari risiko ketergantungan alkohol yang sering menghantui penyintas ADHD. Menurut Tito, alkohol sering digunakan secara salah oleh penderita ADHD untuk merepresi pikiran agar bisa beristirahat, namun ia memilih jalur yang lebih sehat secara ilmiah.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSPI Bintaro Jaya, Anggia Hapsari, menjelaskan bahwa ADHD pada dewasa sering kali tidak menunjukkan hiperaktivitas fisik seperti pada anak-anak. Gejala pada orang dewasa lebih menonjol pada kesulitan mengatur waktu, prokrastinasi, kecerobohan, dan impulsivitas dalam mengambil keputusan.
Anggia menegaskan pentingnya bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan terapi perilaku dan manajemen waktu. Meski ADHD tidak bisa disembuhkan total, kondisi ini dapat dikelola dengan baik melalui edukasi keluarga, terapi keterampilan, serta pengobatan medis jika diperlukan.