Empat Stasiun Bersejarah di Jakarta yang Masih Aktif Beroperasi

Empat Stasiun Bersejarah di Jakarta yang Masih Aktif Beroperasi
Foto: Ilustrasi Empat Stasiun Bersejarah di Jakarta yang Masih Aktif Beroperasi.

Sejumlah stasiun kereta api di Jakarta tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi yang sibuk setiap harinya, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang mendalam. Gedung-gedung ini menjadi saksi bisu perkembangan ibu kota sejak era kolonial hingga modern.

Stasiun Jakarta Kota menjadi salah satu bangunan paling ikonik yang masih melayani penumpang di kawasan Kota Tua. Dilansir dari Detik Travel, stasiun yang populer dengan sebutan Beos ini telah beroperasi secara resmi sejak tahun 1929.

Nama Beos sendiri merupakan singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Pembangunannya bertujuan untuk menggantikan peran Stasiun Batavia Noord yang lokasinya berdekatan namun dianggap sudah tidak memadai.

Arsitek asal Belanda, Frans Johan Louwrens Ghijsels, merancang Stasiun Jakarta Kota dengan sentuhan gaya Art Deco yang sangat kuat. Struktur bangunannya menonjolkan bentuk simetris yang megah sebagai simbol kemajuan transportasi pada masa itu.

Kenyamanan penumpang diperhatikan melalui rancangan atap yang tinggi serta area ruang tunggu yang lapang. Keunikan visualnya lahir dari perpaduan antara pengaruh budaya Eropa dengan karakteristik lokal yang khas.

Mengingat nilai historisnya yang tinggi, Stasiun Jakarta Kota telah menyandang status sebagai Stasiun Cagar Budaya. Penetapan ini didasarkan pada SK Gubernur tahun 1993 serta Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2005.

Simpul Persilangan Manggarai dan Duri

Selain Jakarta Kota, Stasiun Manggarai memiliki peran krusial sebagai pusat jaringan kereta api sejak awal abad ke-20. Pada masa Hindia Belanda, stasiun ini difungsikan sebagai titik temu jalur yang menghubungkan berbagai wilayah di Batavia.

Kini, Manggarai telah bertransformasi menjadi pusat utama layanan KRL Commuter Line setelah melalui berbagai tahap renovasi. Fungsinya tetap vital dalam mendukung pergerakan masyarakat Jabodetabek dari segala arah.

Sementara itu, Stasiun Duri mulai dikembangkan pada akhir abad ke-19 untuk menghubungkan Jakarta dengan area di sebelah barat, termasuk Tangerang. Pembangunannya dahulu juga dimaksudkan untuk mendukung akses menuju kawasan pelabuhan dan jalur dalam kota.

Saat ini, Stasiun Duri berperan sebagai junction atau simpul persilangan penting. Stasiun ini menjadi penghubung rute utama menuju Angke, Kampung Bandan, hingga jalur Commuter Line arah Tangerang.

Kemegahan Stasiun Tanjung Priok

Di bagian utara Jakarta, berdiri Stasiun Tanjung Priok yang mulai beroperasi sekitar tahun 1920-an. Kehadirannya sangat erat kaitannya dengan pengembangan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pusat logistik dan perdagangan internasional pada masa itu.

Stasiun ini dirancang untuk mendukung mobilisasi barang dan penumpang yang datang melalui jalur laut. Bangunannya memiliki gaya arsitektur kolonial yang sangat megah dan masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Selain tetap melayani perjalanan KRL Commuter Line rute Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok dikagumi sebagai bangunan cagar budaya. Struktur fisiknya yang kokoh menjadi pengingat pentingnya kawasan pesisir dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi