Kinerja ekspor nonmigas Indonesia mengalami tekanan signifikan pada Maret 2026 menyusul merosotnya pengiriman komoditas pertanian, kehutanan, perikanan, serta pertambangan. Penurunan tajam ini menunjukkan kerentanan ekspor berbasis sumber daya alam terhadap kondisi perdagangan global, sebagaimana dilansir dari Ekonomi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor nonmigas pada periode tersebut mencapai US$21,25 miliar. Sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama senilai US$17,92 miliar, meskipun angka ini mengalami penurunan sebesar 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pelemahan ekspor secara tahunan dipicu oleh sektor nonmigas, terutama pada beberapa komoditas primer. Komoditas lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) tercatat turun 27,02 persen secara tahunan.
"Nilai ekspor Maret 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan nilai ekspor nonmigas pada beberapa komoditas" ujarnya Ateng Hartono dalam rilis data BPS, Senin (4/5/2026).
Penurunan juga terlihat pada komoditas kakao dan olahannya (HS 18) yang anjlok 50,89 persen. Selain itu, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) turut merosot hingga 54,69 persen, memberikan andil penekan sebesar 0,68 persen terhadap total ekspor nasional.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi bidang dengan kontraksi terdalam mencapai 44,14 persen secara tahunan, meskipun nilai kontribusinya hanya sebesar US$0,32 miliar. Pelemahan ini dipengaruhi oleh turunnya volume ekspor buah-buahan tahunan, tanaman obat, sarang burung, hingga cengkeh.
Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya menyumbangkan US$3 miliar atau terkontraksi 2,15 persen secara yoy. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang kuartal I/2026 hanya tumbuh tipis 0,34 persen menjadi US$66,85 miliar dibanding tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kumulatif tersebut tertahan oleh ekspor migas yang mengalami kontraksi sebesar 10,58 persen dari US$3,64 miliar menjadi US$3,25 miliar. Kondisi ini memperlihatkan ketergantungan ekspor nasional pada sektor manufaktur di tengah fluktuasi harga komoditas primer di pasar internasional.