Layanan satelit orbit rendah (LEO) milik Elon Musk, Starlink, dilaporkan telah menguasai sekitar 45 persen pangsa pasar satelit di Indonesia sejak diluncurkan pada Mei 2024. Penetrasi cepat teknologi ini mulai menggeser dominasi satelit orbit geostrasioner (GEO) yang telah memimpin pasar selama puluhan tahun.
Dilansir dari Teknologi, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (Assi) Risdianto Yuli Hermansyah menjelaskan bahwa pertumbuhan pesat Starlink dipicu oleh kemampuan memenuhi ekspektasi pasar. Layanan ini menawarkan harga mulai Rp700.000-an per bulan, jauh di bawah tarif satelit GEO konvensional.
Data dari Assi menunjukkan bahwa kapasitas antara satelit GEO dan LEO saat ini berada pada perbandingan 60 berbanding 40. Dari sisi jangkauan pasar, persaingan keduanya kini mencapai angka 55 persen untuk GEO dan 45 persen untuk LEO milik Starlink.
ÔÇ£Kalau bicara kapasitas bicara kapasitas antara satelit GEO dan LEO (Starlink) sekitar 60:40. Kalau bisa pangsa pasar mungkin sekitar 55:45,ÔÇØ kata Risdianto, Ketua Umum Assi di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Risdianto menambahkan bahwa konsumen saat ini lebih memilih layanan internet yang cepat, ringan, dan praktis untuk dipasang sendiri di rumah. Meskipun instalasi satelit GEO membutuhkan waktu lebih lama dan bantuan teknisi, teknologi ini tetap mendominasi sektor penyiaran di wilayah pelosok.
ÔÇ£Untuk broadcast dan backhaul itu dominan masih menggunakan satelit GEO,ÔÇØ kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Pihak asosiasi menegaskan bahwa bisnis satelit GEO lokal tetap stabil dan tidak mengalami penurunan permintaan yang drastis. Risdianto melihat adanya peluang bagi pemain satelit nasional untuk beralih ke bisnis ekosistem IoT (Internet of Things) dan data intelijen bumi.
ÔÇ£Kalau bicara satelit memang saat ini masih konektivitas, tetapi memang seperti IoT dan earth intelligence itu pertumbuhannya meningkat,ÔÇØ kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Selain persaingan teknologi, industri satelit nasional kini menghadapi tekanan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp17.400 per dolar AS. Hal ini berdampak langsung pada biaya operasional dan belanja modal pembangunan infrastruktur satelit yang mayoritas menggunakan mata uang dolar.
ÔÇ£Fluktuasi terdampak, profitabilitas terkena, dan ekspansi tertunda,ÔÇØ kata Risdianto, Ketua Umum Assi.
Menghadapi tantangan tersebut, Assi menyarankan agar pelaku industri melakukan pergeseran paradigma dari sekadar penyedia konektivitas menjadi penyedia solusi terintegrasi. Hal ini mencakup layanan untuk sektor maritim seperti pelacakan posisi kapal serta navigasi demi menjaga kedaulatan data nasional.
ÔÇ£Contoh maritim. Ada kombinasi broadband untuk komunikasi dan narrowband untuk IoT (tracking posisi kapal, sensor mesin/bahan bakar untuk efisiensi). Navigasi dan PNT (Positioning, Navigation, and Timing) juga, dan meningkatnya kebutuhan seiring tensi geopolitik. Tiap negara ingin memiliki data sendiri,ÔÇØ kata Risdianto, Ketua Umum Assi.