Masyarakat luas mengecam keras dugaan pemalsuan data riset internasional berbasis kecerdasan buatan yang melibatkan dua warga negara Indonesia pada Jumat, 29 Mei 2026. Tindakan tersebut dinilai mencederai etika akademik serta merusak reputasi ilmiah Indonesia di tingkat global.
Skandal manipulasi ini dilansir dari Investor Daily dilakukan oleh Rivaldy Fajar dan Prihantini. Perbuatan kedua oknum tersebut memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan masyarakat yang mengkhawatirkan dampak jangka panjang bagi komunitas peneliti domestik.
Seorang mahasiswa bernama Rizki menilai bahwa tindakan pemalsuan ini sangat tidak bermoral. Menurutnya, dampak dari kasus ini akan langsung dirasakan oleh akademisi lain yang ingin membangun kerja sama internasional.
"Menurut saya tidak bermoral karena mencoreng nama Indonesia di mata dunia, dan memengaruhi kredibilitas peneliti Indonesia sehingga tidak dipercaya negara lain," ujar Rizki.
Kritik tajam terhadap manipulasi data riset ini juga datang dari warga lain bernama Arya. Ia menggarisbawahi pentingnya validitas data dalam setiap perumusan karya ilmiah agar tidak merugikan perkembangan ilmu pengetahuan ke depan.
"Jadi, kalau peneliti lain ingin meneliti tentang hal ini, ternyata datanya tidak valid, kesalahannya akan turun-temurun," jelas Arya.
Kekhawatiran mengenai pengawasan seleksi delegasi ilmiah dikemukakan oleh Elmo. Mantan mahasiswa ini menyayangkan kelengahan pihak otoritas dalam menyaring perwakilan yang dikirim ke forum internasional atas nama negara.
"Kenapa orang-orang yang tidak memiliki latar belakang dan kredibilitas jelas bisa dikirim ke luar negeri atas nama negara? Ini ibaratnya kita bunuh diri. Dampaknya, perwakilan peneliti kita ke depan akan kesulitan karena nama Indonesia sudah tercoreng. Saya prihatin dengan kurangnya pengawasan dari pemerintah," tegas Elmo.
Desakan perbaikan sistem kemudian disuarakan oleh mahasiswa lain bernama Indi. Ia meminta otoritas terkait segera berbenah demi menjaga marwah institusi pendidikan nasional.
"Saya berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh dan menyaring kembali para peneliti nasional agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi," harap Indi.
Aksi lancung kelompok riset pimpinan Rivaldy Fajar dan Prihantini ini diketahui telah berlangsung sejak tahun 2025. Mereka memalsukan data riset AI dan memanipulasi identitas diri demi meraup fasilitas dana bantuan perjalanan untuk menghadiri konferensi internasional.
Rekam jejak digital dan penyamaran mereka akhirnya terbongkar dalam forum ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Prihantini tidak berkutik setelah diinterogasi mengenai aspek teknis riset oleh seorang epidemiolog bernama Wa Ode Dwi Daningrat.
Informasi mengenai skandal ini menjadi viral setelah disebarluaskan oleh Bagus Mandhara Brasika melalui platform media sosial. Kedua pelaku kini resmi masuk daftar hitam internasional, seluruh fasilitasnya dicabut, serta terkonfirmasi sebagai alumni FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta dan penerima beasiswa LPDP angkatan 2022.