Seorang siswi Sekolah Menengah Atas mempresentasikan gagasan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencegah pemadaman listrik berskala besar di wilayah pedesaan dalam forum Jakarta Scholars Symposium (JSS) 2026 di Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Dilansir dari Media Indonesia, inovasi sistem pintar tersebut memanfaatkan pendekatan machine learning, deep learning, dan reinforcement learning untuk mendeteksi gangguan jaringan serta mengatur distribusi daya otomatis.
Siswi SMA Pelita Harapan Karawaci, Elaine Wynette Wijaya, mengusulkan riset tersebut setelah menyoroti kerentanan infrastruktur transmisi dan ketergantungan microgrid yang memicu pemadaman berulang di daerah Papua, Aceh, dan Lombok.
ÔÇ£Pemadaman listrik bukan soal ketiadaan penerangan, tetapi sudah jadi krisis multidimensi yang menghambat produktivitas ekonomi, layanan kesehatan, dan pendidikan masyarakat desa,ÔÇØ ujar Elaine Wynette Wijaya, siswi SMA Pelita Harapan Karawaci.
Penerapan kecerdasan buatan pada sistem kelistrikan pedesaan ini diproyeksikan mampu memangkas frekuensi pemadaman hingga 15 persen sekaligus menekan biaya operasional sebesar 25,6 persen.
ÔÇ£AI menawarkan harapan nyata untuk mengakhiri siklus pemadaman yang telah lama jadi beban masyarakat desa,ÔÇØ kata Elaine.
Kendala utama pengembangan teknologi ini terletak pada sulitnya akses data kelistrikan dari berbagai daerah yang sangat dibutuhkan untuk membangun akurasi model kecerdasan buatan.
ÔÇ£Saya berharap bisa bekerja sama dengan NGO ataupun pemerintah untuk mendapatkan akses data dari kota-kota lain agar bisa menciptakan model AI terutama melalui pengembangan microgrid,ÔÇØ ujar Elaine.
Melalui pengujian langsung di lapangan, konsep microgrid dinilai mampu mengoptimalkan efisiensi dan stabilitas distribusi energi pada wilayah terpencil.
"With dukungan AI, sistem ini diharapkan mampu memprediksi gangguan, mengatur distribusi energi, serta mengurangi risiko blackout secara lebih cepat dan efektif," terang Elaine.
Penerapan teknologi serupa tercatat telah berhasil diimplementasikan di Australia, sehingga implementasi di Indonesia sangat berpeluang untuk direalisasikan.
"Namun, kolaborasi dengan para ahli menjadi kunci utama pengembangan teknologi tersebut. Saya harus bekerja sama dengan para expert atau profesional dalam bidang ini," imbuh Elaine.
Guna mendukung riset sektor energi ini, pemerintah disarankan untuk memperkuat kemitraan strategis yang melibatkan institusi pendidikan tinggi dan peneliti daerah.
ÔÇ£Indonesia memiliki banyak profesor dan intelektual. Dengan menjalin partnership bersama universitas dan pemerintah di berbagai kota, kita bisa menggabungkan data untuk menciptakan solusi yang nyata,ÔÇØ ujarnya.
Pengembangan model AI dan pemanfaatan sistem sensor berbiaya rendah juga diharapkan dapat menjadi solusi aplikatif yang diadopsi oleh negara-negara lain di dunia.
ÔÇ£Saya berharap riset ini, terutama model AI dan sistem sensor berbiaya rendah, bisa membantu bukan hanya negara kita tetapi juga negara lain di seluruh dunia. Masalah utama selama ini adalah biaya AI dan sensor yang mahal. Dengan teknologi lebih terjangkau, saya berharap negara-negara saling terhubung dan bekerja sama lebih baik,ÔÇØ tutup Elaine.
Jakarta Scholars Symposium 2026 sendiri merupakan wadah independen yang menampilkan sembilan pelajar terpilih untuk memaparkan proyek inovatif seputar isu lingkungan, kesehatan, energi, hingga pemberdayaan sosial di Indonesia.