Dominasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai merambah berbagai sendi kehidupan, terutama di kalangan remaja yang menggunakannya untuk tugas sekolah hingga referensi belajar. Namun, sebuah riset terbaru menunjukkan adanya kesenjangan tingkat kepercayaan diri antara pelajar laki-laki dan perempuan dalam mendalami teknologi ini.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cogent Education ini, sebagaimana dikutip dari Media Indonesia, mengungkapkan bahwa siswa laki-laki memiliki kecenderungan lebih yakin saat mempelajari dan mengoperasikan AI dibandingkan rekan perempuan mereka.
Studi ini dipimpin oleh Dr. Zubair Ahmad dari Qatar University Young Scientists Center dengan melibatkan 743 siswa sekolah menengah atas di Qatar. Responden yang berusia 15 hingga 18 tahun tersebut berasal dari beragam latar belakang wilayah, termasuk Asia dan Afrika.
Para peneliti menemukan fakta bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam memahami AI berbanding lurus dengan pencapaian hasil belajar yang lebih optimal.
"Kami menemukan bahwa siswa yang percaya pada kemampuan mereka untuk mempelajari dan menggunakan AI biasanya memiliki hasil yang lebih baik dalam bidang tersebut. Hubungan antara rasa percaya diri dan hasil belajar ini jauh lebih kuat pada siswa laki-laki dibanding perempuan," ujar Dr. Ahmad.
Dr. Ahmad menjelaskan bahwa pembelajaran AI sangat bertumpu pada metode eksperimen dan perbaikan kesalahan secara mandiri. Siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi cenderung lebih berani mencoba berbagai alat baru, sedangkan mereka yang takut salah sering kali bersikap pasif dalam proses pembelajaran.
Dampak Stereotip Gender di Bidang Teknologi
Laporan penelitian tersebut menyoroti persepsi publik yang masih menganggap bidang teknologi dan AI sebagai ranah yang identik dengan laki-laki. Pandangan ini dinilai menjadi hambatan psikologis bagi siswi perempuan sejak tahap awal pembelajaran.
"Teknologi dan AI sering dianggap sebagai bidang yang didominasi laki-laki. Hal ini dapat memengaruhi keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka sendiri dan keterlibatan mereka dalam pelajaran," kata Dr. Ahmad.
Fenomena rendahnya kepercayaan diri perempuan di sektor ilmu komputer ini ternyata bersifat global. Berbagai studi di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia menunjukkan pola serupa, meski secara nilai akademik sebenarnya tidak terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan.
Peran Penting Lingkungan Sekolah
Selain faktor internal, dukungan dari institusi pendidikan dan tenaga pendidik memegang peranan krusial. Akses terhadap materi yang memadai serta bimbingan intensif terbukti membantu siswa dalam menguasai teknologi masa depan ini.
Guna mengatasi kesenjangan tersebut, tim peneliti mendesak pihak sekolah untuk membangun ekosistem belajar yang lebih inklusif. Langkah konkret yang disarankan adalah menghadirkan lebih banyak figur perempuan sukses di bidang AI sebagai inspirasi bagi para siswi.
"Sekolah perlu memberikan dukungan lebih besar kepada perempuan," ujar Dr. Ahmad.
Ia juga menekankan pentingnya bagi guru untuk menciptakan suasana kelas yang suportif. Hal ini bertujuan agar seluruh siswa, tanpa memandang gender, merasa memiliki kesempatan yang setara untuk bereksperimen dengan teknologi tanpa rasa takut.