Siapa Pemilik Labubu? Ternyata Sosoknya Konglomerat Muda China yang Mengejutkan Dunia

Siapa Pemilik Labubu? Ternyata Sosoknya Konglomerat Muda China yang Mengejutkan Dunia
Foto: Siapa Pemilik Labubu? Ternyata Sosoknya Konglomerat Muda China yang Mengejutkan Dunia. (Illustration by Pexels)

Fenomena boneka Labubu kini tengah melanda para kolektor mainan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Karakter unik dengan telinga panjang dan gigi runcing ini menjadi barang buruan yang sangat sulit didapatkan di pasaran.

Popularitas Labubu melonjak drastis setelah bintang K-pop global, Lisa BLACKPINK, mengunggah foto aksesori boneka tersebut di akun Instagram pribadinya pada April 2024 lalu. Sejak momen itu, permintaan terhadap karakter garapan Pop Mart ini meningkat sangat tajam.

Kini, banyak orang yang rela mengantre berjam-jam demi bisa membawa pulang satu figur koleksi ini. Meskipun Labubu sebenarnya sudah mulai diproduksi sejak beberapa tahun lalu, efek "Lisa" terbukti ampuh menjadikannya tren global yang masif.

Pasar Asia, mulai dari Thailand hingga Indonesia, merespons tren ini dengan sangat antusias. Rentang harga boneka Labubu sendiri sangat bervariasi, tergantung pada kelangkaan dan ukurannya di pasar kolektor.

Harga dan cara mendapatkan Labubu secara resmi:

  • Varian harga mulai dari kisaran Rp200 ribuan hingga mencapai puluhan juta rupiah untuk edisi langka.
  • Pembelian resmi secara daring dapat dilakukan melalui situs resmi popmart.com/id.
  • Konsumen di Indonesia bisa mengunjungi toko fisik resmi Pop Mart yang berlokasi di Gandaria City Mall, Jakarta.

Langkah ini sangat disarankan untuk menjamin orisinalitas produk yang dibeli. Namun, di balik kesuksesan besar karakter ini, siapakah sosok sebenarnya yang memiliki Pop Mart?

Profil Wang Ning: Sang Visioner di Balik Pop Mart

Kesuksesan global boneka Labubu tidak lepas dari peran penting Wang Ning. Ia adalah pendiri sekaligus pemilik Pop Mart, perusahaan mainan seni (art toy) raksasa asal China.

Wang Ning lahir di Provinsi Henan pada tahun 1987 dan menempuh pendidikan sarjana di bidang periklanan di Universitas Zhengzhou. Setelah lulus pada tahun 2009, ia sempat mengawali kariernya di Sina Corporation, sebuah perusahaan media digital ternama.

Hasrat wirausaha yang kuat mendorong Wang untuk berhenti bekerja setelah setahun dan mulai membangun bisnisnya sendiri. Inspirasi tersebut ia dapatkan saat melakukan perjalanan ke Hong Kong yang membuka matanya terhadap potensi pasar ritel mainan tren.

Ia sangat terkesan dengan jaringan ritel di sana yang menjual beragam produk populer dengan konsep modern. Wang kemudian memutuskan untuk membawa konsep bisnis serupa ke daratan China pada tahun 2010.

Toko Pop Mart pertama resmi dibuka di kawasan Zhongguancun, Beijing. Lokasi ini dikenal sebagai pusat inovasi teknologi yang sering dijuluki sebagai "Silicon Valley" versi China.

Pada masa awal berdirinya, Wang menghadapi tantangan besar dalam mengelola bisnis ritelnya secara mandiri. Ia sempat kesulitan dalam urusan manajemen inventaris, pengaturan staf, hingga standar layanan pelanggan.

Sadar akan keterbatasannya, Wang memilih untuk kembali ke bangku pendidikan pada tahun 2014. Ia mendaftar di Peking University’s Guanghua School of Management untuk memperdalam ilmu bisnisnya.

Keputusan ini menjadi titik balik karena ia bertemu dengan rekan-rekan yang memiliki visi serupa. Rekan-rekan sekolahnya itulah yang kemudian diajak bergabung untuk memperkuat tim manajemen inti di Pop Mart.

Transformasi Bisnis dan Inovasi Blind Box

Demi menjaga keberlangsungan keuntungan perusahaan, Wang mengambil keputusan strategis untuk merampingkan varian produknya. Ia mulai membatasi lini penjualan dan hanya fokus pada kategori mainan yang paling diminati konsumen.

Langkah besar lainnya adalah memperkenalkan konsep "blind box" atau kotak buta ke pasar China. Konsep ini memberikan elemen kejutan bagi pembeli karena mereka tidak mengetahui karakter apa yang ada di dalam kemasan hingga membukanya.

Model penjualan ini sebenarnya mirip dengan sistem gashapon atau gacha yang sangat populer di Jepang. Inovasi ini ternyata sangat diterima oleh pasar dan membuat penjualan produk Pop Mart meroket drastis.

Wang tidak berhenti di situ dan mulai menjalin kolaborasi erat dengan berbagai seniman desain. Ia merangkul para kreator berbakat untuk menciptakan patung dan boneka kecil eksklusif yang hanya bisa didapatkan di tokonya.

Salah satu pencapaian terbesarnya adalah menggandeng Kenny Wong, seniman asal Hong Kong yang menciptakan karakter Molly. Molly adalah karakter boneka berwajah bulat dan bermata besar yang menjadi ikonik di kalangan kolektor.

Dampak kolaborasi strategis terhadap pertumbuhan Pop Mart:

  • Pada tahun 2017, pendapatan Pop Mart melonjak hingga menyentuh angka 22 juta dolar AS.
  • Hanya dalam waktu satu tahun, angka tersebut melesat menjadi 73 juta dolar AS pada 2018.
  • Meskipun dunia dilanda pandemi COVID-19 pada 2020, bisnis Wang tetap mencatatkan pendapatan fantastis sebesar 256,8 juta dolar AS.

Pertumbuhan yang eksponensial ini memperkuat posisi Pop Mart sebagai pemimpin pasar di industri mainan koleksi. Wang pun berhasil mengamankan lisensi dari perusahaan hiburan besar seperti Walt Disney dan Universal Studios.

Menjadi Konglomerat Muda di China

Keberhasilan luar biasa Pop Mart dan viralnya karakter seperti Labubu membawa Wang Ning ke jajaran elit miliarder dunia. Di usianya yang masih tergolong muda, ia telah membuktikan bahwa industri mainan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.

Berdasarkan data dari Forbes Real Time Billionaires per 25 November 2024, kekayaan Wang tercatat mencapai 7,4 miliar dolar AS. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di daratan China.

Kategori Peringkat Posisi Wang Ning
Peringkat Orang Terkaya di China Posisi ke-36
Peringkat Orang Terkaya di Dunia Posisi ke-397
Total Kekayaan Bersih 7,4 Miliar Dolar AS

Tabel di atas menunjukkan posisi finansial Wang Ning yang sangat solid berkat kerajaan bisnis mainan seni yang ia bangun dari nol. Di usia 37 tahun, ia menjadi sosok inspiratif bagi banyak pengusaha muda di sektor kreatif dan ritel.

Kini, Pop Mart terus berekspansi ke pasar internasional dan menjangkau lebih banyak penggemar di seluruh dunia. Dengan strategi pemasaran yang kuat dan tren koleksi yang tidak pernah padam, Labubu diprediksi akan terus menjadi fenomena dalam waktu yang lama.

Artikel terkait

Rekomendasi