Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan 200 Warga Sipil

Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan 200 Warga Sipil
Foto: Ilustrasi Serangan Udara Israel di Lebanon Tewaskan 200 Warga Sipil.

Gelombang serangan udara masif yang diluncurkan militer Israel menghantam wilayah padat penduduk di Beirut, Lebanon, pada Jumat (10/4/2026). Insiden mematikan di tengah hari kerja tersebut menyebabkan setidaknya 200 orang meninggal dunia dan melukai lebih dari 1.000 warga lainnya.

Data sementara menunjukkan bahwa sebagian besar korban merupakan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, banyak korban dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang roboh akibat dentuman rudal yang terjadi tanpa peringatan awal.

Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Lebanon, Dr. Abdinasir Abubakar, menyatakan bahwa dirinya menyaksikan langsung 10 serangan berbeda dalam waktu 10 menit dari jendela kantornya. Kekuatan ledakan tersebut menghancurkan gedung-gedung pemukiman dalam waktu singkat.

"Saya bisa melihat dari jendela saya, ada 10 serangan berbeda di depan mata, dan gedung-gedung mulai runtuh," ujar Dr. Abdinasir Abubakar, Perwakilan WHO di Lebanon.

Kondisi di fasilitas kesehatan setempat dilaporkan sangat memprihatinkan karena lonjakan pasien yang tidak terbendung. Tim medis mulai menerima jenazah yang tidak teridentifikasi serta potongan tubuh yang berserakan, menandakan besarnya daya ledak senjata yang digunakan dalam serangan tersebut.

Sistem kesehatan Lebanon kini berada di ambang kelumpuhan total akibat keterbatasan stok pasokan medis kritis. Unit Gawat Darurat dan layanan trauma bekerja melampaui kapasitas maksimal di tengah menipisnya obat-obatan dan peralatan medis dasar.

Krisis ini diperburuk oleh tingginya angka kematian di kalangan pekerja medis sejak eskalasi konflik dimulai. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 50 tenaga kesehatan tewas dan 150 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlanjut.

Dr. Abubakar menekankan bahwa kematian petugas kesehatan berdampak langsung pada terhentinya layanan ambulans darurat yang krusial bagi penyelamatan nyawa. WHO bersama kementerian kesehatan setempat terus mengupayakan pengiriman bantuan meski menghadapi kendala logistik yang berat.

Intensitas serangan dalam 24 jam terakhir telah menguras habis stok medis yang tersedia. Jalur transportasi yang terbatas menuju Lebanon menjadi hambatan utama dalam mendistribusikan bantuan tambahan ke wilayah-wilayah terdampak paling parah.

Artikel terkait

Rekomendasi