Kaspersky Ungkap Serangan Spyware di Asia Tenggara Naik 18 Persen

Kaspersky Ungkap Serangan Spyware di Asia Tenggara Naik 18 Persen
Foto: Ilustrasi Kaspersky Ungkap Serangan Spyware di Asia Tenggara Naik 18 Persen.

Kaspersky melaporkan adanya kenaikan signifikan pada aktivitas serangan spyware yang menyasar berbagai organisasi di wilayah Asia Tenggara sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data yang dikutip dari Suara, perusahaan keamanan siber global tersebut telah memblokir sebanyak 818.939 upaya serangan spyware selama periode satu tahun.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 18 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang menjadi indikasi bahwa spionase digital di kawasan ini semakin agresif.

"Data kami menunjukkan bahwa kita memasuki era di mana pelaku ancaman tidak hanya mengincar gangguan bisnis," kata Simon Tung, General Manager untuk ASEAN dan Negara-negara Berkembang Asia (AEC) di Kaspersky.

Simon Tung menjelaskan bahwa terjadi peningkatan pengumpulan intelijen yang ditargetkan secara khusus di Asia Tenggara guna mencuri informasi sensitif milik perusahaan.

Spyware merupakan perangkat lunak berbahaya yang beroperasi secara rahasia di perangkat korban untuk memantau aktivitas serta mengambil data tanpa izin pemiliknya.

Keberadaan ancaman ini dianggap sangat berisiko karena dapat mengakses komunikasi internal perusahaan hingga memicu terjadinya kebocoran data dalam skala besar.

Data tahunan dari Kaspersky menunjukkan bahwa Singapura menjadi negara yang mengalami lonjakan serangan spyware tertinggi dengan kenaikan mencapai 111 persen secara year-on-year (YoY).

Filipina berada di posisi berikutnya dengan peningkatan sebesar 85 persen, disusul oleh Malaysia yang mencatat kenaikan ancaman sebanyak 75 persen.

Sementara itu, Indonesia turut mencatat kenaikan serangan sebesar 35 persen, sedangkan Vietnam mengalami pertumbuhan tipis di angka 8 persen.

Sebaliknya, Thailand menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang berhasil mencatatkan penurunan serangan spyware hingga 53 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa organisasi di Asia Tenggara telah menjadi target utama bagi operasi spionase siber modern yang dijalankan secara terorganisasi.

Kampanye Spionase Operation ForumTroll

Pada Maret 2025, Kaspersky mengidentifikasi sebuah kampanye spionase siber bernama Operation ForumTroll yang memanfaatkan kerentanan zero-day pada browser Google Chrome.

Serangan ini menyasar sektor-sektor strategis yang meliputi lembaga pemerintahan, institusi pendidikan, industri keuangan, hingga media massa.

Para pelaku menggunakan metode phishing melalui email yang dipersonalisasi dengan kedok undangan forum internasional Primakov Readings untuk menjebak para korban.

Begitu sistem berhasil ditembus, penyerang akan menanamkan spyware jenis LeetAgent dan Dante guna memantau aktivitas internal organisasi tersebut dalam jangka panjang.

Pola serangan ini mengindikasikan adanya operasi siber yang terkoordinasi dengan dukungan sumber daya besar serta kemampuan intelijen yang sangat mumpuni.

"Spyware sangat berbahaya bagi bisnis di Asia Tenggara karena beroperasi secara diam-diam, mengekstrak hal-hal yang paling penting seperti data sensitif, wawasan strategis, dan intelijen perusahaan," ujar Tung.

Ia menambahkan bahwa informasi tersebut menjadi komoditas yang sangat berharga bagi pelaku ancaman di tengah situasi geopolitik dan ekonomi yang semakin kompleks.

Langkah Pencegahan untuk Perusahaan

Guna meminimalkan risiko terkena dampak spyware, Kaspersky memberikan sejumlah rekomendasi teknis bagi organisasi dan perusahaan di kawasan Asia Tenggara.

Perusahaan disarankan untuk melakukan pembaruan perangkat lunak secara rutin dan membatasi akses pada layanan desktop jarak jauh seperti Remote Desktop Protocol (RDP).

Pemanfaatan solusi keamanan yang berbasis kecerdasan buatan (AI) serta threat intelligence sangat dianjurkan untuk mendeteksi ancaman yang lebih canggih.

Selain itu, melakukan pencadangan data secara berkala menjadi langkah krusial untuk memastikan kelangsungan operasional jika terjadi serangan sistem.

Kaspersky menekankan agar sistem backup tersebut harus diisolasi dari jaringan utama agar tidak ikut terinfeksi saat terjadi insiden keamanan siber.

Artikel terkait

Rekomendasi