Deru kendaraan tak pernah benar-benar reda di sepanjang Jalan Letnan Jenderal Suprapto, Kramat, Jakarta Pusat. Di tengah hiruk pikuk kota yang terus bergerak, sejumlah pedagang obat kaki lima masih bertahan, menjaga lapak sederhana yang kini kian terdesak perubahan zaman dan pola konsumsi masyarakat. Klakson bersahutan, angkutan umum melintas, dan pejalan kaki datang silih berganti dalam ritme kota yang tak pernah berhenti.
Di tepi jalan kawasan Kramat Raya, sebuah lapak kayu sederhana berdiri di antara lalu lalang kendaraan. Etalasenya dipenuhi aneka obat, dari minyak angin, balsem, obat flu, hingga produk herbal. Di balik lapak itu, Anas duduk tenang, mengamati kota yang telah berubah jauh sejak pertama kali ia datang ke Jakarta puluhan tahun lalu. Pria asal Bukittinggi, Sumatra Barat, itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di tempat tersebut. Berjualan obat di pinggir jalan bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan panjang yang membentuk hidupnya.
"Saya sudah jualan hampir 50 tahun di sini" kata Anas pelan saat ditemui Kompas.com, Jumat (24/4/2026).
Ia datang ke Jakarta mengikuti arus urbanisasi yang dulu membawa banyak perantau ke kawasan Kramat dan Senen. Pada masa itu, kawasan ini dikenal sebagai pusat aktivitas warga, ramai dan hidup, serta menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat.
"Dulu di sini ramai sekali" kenangnya.
Tak Sekadar Jual Beli
Dalam ingatan Anas, Kramat bukan hanya soal jual beli. Kawasan itu juga menjadi ruang sosial yang hangat. Pedagang saling mengenal, sementara pembeli datang bukan sekadar bertransaksi, tetapi juga berbincang. Ia mengingat salah satu ikon masa itu, Mulia Agung Theater. Bioskop tersebut menjadi tempat hiburan yang hidup, bahkan sesekali membuka akses gratis bagi warga sekitar dan pedagang kecil.
"Dulu bioskop ramai, kami juga kadang bisa nonton" ujarnya singkat.
Kini, memori itu tinggal cerita. Lanskap kawasan telah berubah. Toko-toko lama berganti menjadi bangunan bertingkat, ruko modern, hingga gedung tinggi yang mendominasi langit kota. Modernisasi turut mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan, termasuk dalam hal kesehatan. Apotek modern, ritel besar, hingga layanan daring kini menjadi pilihan utama.
Akses yang lebih mudah dan jaminan kualitas membuat masyarakat beralih dari pola lama. Dampaknya terasa nyata bagi pedagang seperti Anas.
"Sekarang sudah sepi, karena sudah canggih ya, sudah ada online, apotek juga banyak" kata dia.
Dalam beberapa hari, ia bahkan tidak melayani satu pun pembeli. Meski begitu, ia tetap membuka lapak setiap hari, seolah menjaga keberadaan yang perlahan tergerus zaman.
"Ini sudah empat hari belum ada yang beli, ya syukur-syukur bisa satu atau dua lah buat makan" ucap Anas.
Di tengah perubahan itu, pola usaha yang dijalankan Anas tetap sederhana. Ia mendapatkan barang dari berbagai sumberÔÇöpemasok yang datang langsung, toko grosir, hingga jaringan informal. Praktik ini berada dalam wilayah abu-abu secara regulasi, mengingat distribusi obat seharusnya melalui jalur resmi. Namun bagi Anas, realitas hidup tidak selalu memberi banyak pilihan.
"Daripada minta-minta, saya jualan begini" ujar Anas.
Obat yang dijual Anas diperoleh dari apotek terdekat hingga warga yang memiliki stok obat berlebih dan tidak lagi digunakan. Dalam penjualan pun, lapak miliknya berupa etalase kayu yang diisi berbagai kotak obat kosong.
"Ya, di sini (etalase) kosong ini. Enggak ada isinya. Buat pajangan saja" tutur dia.
Kotak-kotak obat tersebut tampak kusam dan pudar, bahkan beberapa masih menggunakan desain lama dari era 1990-an. Obat-obatan yang dijual Anas disimpan rapi di dalam kotak plastik yang diletakkan di laci bagian bawah etalase. Saat ada pembeli datang, ia mengambil obat dari laci tersebut, bukan dari etalase bagian depan.
"Kalau obat-obatan yang saya jual ada di kotak di bawah sini (laci)" tunjuk Anas.
Bagi Anas, berjualan bukan semata soal penghasilan. Ada keterikatan emosional yang membuatnya tetap bertahan.
"Sudah lama di sini, jadi betah. Kangen masa-masa dulu" tutur dia.
Dari Ramai Pembeli Hingga Sepi
Cerita serupa datang dari Rasid, pedagang obat lain yang masih bertahan di kawasan Kramat Kwitang. Ia telah berjualan selama sekitar 35 tahun, mengikuti jejak para pedagang yang lebih dulu ada.
"Saya sudah sekitar 35 tahun jualan di sini. Awalnya ikut orang dulu" ujar Rasid saat ditemui.
Pada masa awal, Rasid menggambarkan suasana yang jauh berbeda. Para pedagang obat bahkan membentuk semacam komunitas kecil yang saling mendukung.
"Dulu rame, kami kayak perkumpulan pedagang obat" kata dia.
Dari usaha tersebut, ia mampu menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Dulu sangat cukup. Semua kebutuhan keluarga dari sini" ucap Rasid.
Namun kondisi itu kini berubah drastis. Jika dulu setiap hari ada pembeli, kini dalam sepekan hanya satu hingga empat orang yang datang. Menurut Rasid, perubahan itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari menjamurnya apotek hingga kemudahan membeli obat secara daring.
"Dulu orang belum banyak pilihan. Sekarang sudah banyak" tutur dia.
Meski demikian, ia tetap bertahan. Baginya, usaha ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga perjalanan hidup.
"Ini sumber hidup saya. Dari sini saya besarkan keluarga" kata Rasid.
Hal senada diungkapkan Supri, yang mulai berjualan sejak 1990-an. Ia mengingat masa ketika pedagang obat di kawasan Kramat Pulo mencapai puluhan orang.
"Dulu bisa sekitar 30 pedagang" ujar Supri saat ditemui.
Saat itu, pembeli datang setiap hari dan penghasilan cukup untuk menopang kehidupan keluarga. Kini situasinya berubah. Persaingan semakin ketat, sementara permintaan menurun.
"Sekarang jauh lebih sepi" ucap Supri.
Meski menyadari adanya aturan terkait penjualan obat, Supri berusaha lebih berhati-hati dalam memilih barang dagangan.
"Saya tahu ada aturan, jadi sekarang lebih hati-hati" kata dia.
Namun, seperti pedagang lainnya, ia memilih tetap bertahan karena keterbatasan pilihan di usia yang tidak lagi muda.
"Tidak mudah mulai usaha lain" ujar Supri.
Perspektif Konsumen dan Tetangga Lapak
Di sisi lain, keberadaan pedagang obat kaki lima masih memiliki tempat di hati sebagian masyarakat. Rian, seorang pekerja, mengaku sesekali membeli obat dari lapak seperti milik Anas.
"Kalau butuh cepat, saya beli di sini" kata Rian.
Menurut dia, faktor kedekatan dan kepraktisan menjadi alasan utama. Selain itu, rasa empati juga membuatnya sesekali menghampiri pedagang obat.
"Ya, bisa dibilang begitu. Mereka sudah tua dan ini satu-satunya usaha" tutur Rian saat menanggapi alasan ia membeli ke pedagang obat jalanan.
Namun, ia tetap menyadari batasannya. Untuk penyakit ringan, ia merasa cukup membeli di pedagang kaki lima. Tetapi untuk kondisi serius, ia memilih berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Kalau sudah berat, saya tetap ke dokter" ujar Rian.
Bagi pedagang lain di sekitar lokasi, keberadaan pedagang obat kaki lima telah menjadi bagian dari sejarah kawasan. Jaya, pedagang air kemasan, mengaku telah melihat perubahan itu selama 30 tahun terakhir. Menurutnya, pedagang obat merupakan bagian dari wajah lama Kramat.
"Mereka itu seperti bagian dari sejarah" ujar Jaya.
Hal serupa disampaikan Udin, pedagang rokok yang telah berjualan selama 35 tahun. Ia melihat ketekunan sebagai hal yang menonjol dari para pedagang tersebut meski sepi pembeli.
"Mereka tetap jualan walaupun kondisi berubah" ujarnya.
Di Antara Kebutuhan dan Risiko Kesehatan
Fenomena pedagang obat kaki lima tidak bisa dilepaskan dari persoalan yang lebih luas. Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, menyebutnya sebagai isu klasik di wilayah perkotaan.
"Ini berada di antara isu akses, ekonomi informal, dan risiko kesehatan" ujar Dicky saat dihubungi.
Ia menjelaskan konsumsi obat tanpa pengawasan tenaga medis memiliki sejumlah risiko, mulai dari kesalahan diagnosis hingga penggunaan dosis yang tidak tepat.
"Misuse dan misdiagnosis menjadi isu utama" kata dia.
Selain itu, penggunaan antibiotik tanpa indikasi dapat mempercepat munculnya resistansi antimikroba, yang menjadi ancaman global.
"Ini berbahaya karena bisa membuat obat tidak lagi efektif" ujar Dicky.
Dicky juga menyoroti risiko lain seperti interaksi obat, efek samping yang tidak terdeteksi, hingga kemungkinan kontaminasi. Meski demikian, ia menekankan bahwa fenomena ini tidak bisa dilihat semata sebagai pelanggaran.
"Ada kebutuhan yang belum terpenuhi oleh sistem formal" ujar dia.
Menurut dia, pendekatan yang diperlukan tidak bisa hanya bersifat represif, melainkan harus komprehensif, mulai dari peningkatan akses layanan kesehatan hingga edukasi masyarakat. Sementara itu, pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Pusat menyatakan telah melakukan penertiban di lokasi tersebut.
"Kami sudah melakukan penertiban dan koordinasi dengan instansi terkait" ujar Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean saat dihubungi.
Selain penertiban, Satpol PP juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait risiko penggunaan obat tanpa resep. Satpol PP juga mengimbau agar para pedagang tidak mengganggu ketertiban umum, termasuk tidak menggunakan badan jalan untuk berjualan. Di tengah berbagai tantangan itu, lapak kecil milik para pedagang tetap berdiri. Di antara bayang-bayang gedung tinggi dan perubahan zaman, mereka memilih bertahanÔÇöbukan hanya demi penghasilan, tetapi juga untuk menjaga kenangan yang telah dibangun selama puluhan tahun.