Warna hijau yang mencolok pada salah satu kubah di Masjid Nabawi bukan sekadar elemen dekoratif semata. Seperti dilansir dari Detikcom, kubah ini berfungsi sebagai identitas sakral yang menandai lokasi makam Rasulullah SAW.
Selain makam Nabi Muhammad SAW, area tersebut juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi dua sahabat terdekat beliau, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA.
Kubah Hijau yang terletak di sisi tenggara masjid ini dulunya merupakan rumah Aisyah RA. Lokasi tersebut mulai ditandai dengan struktur bangunan khusus setelah adanya perluasan besar di era Kesultanan Umayyah al-Walid I.
Struktur penutup makam ini awalnya terbuat dari kayu yang dibangun pada tahun 1279. Bangunan kayu tersebut kemudian melewati beberapa kali proses renovasi, terutama pada abad ke-15 dan tahun 1817.
Bentuk kubah yang berdiri tegak hingga saat ini merupakan hasil pembangunan oleh Sultan Utsmaniyah Mahmud II pada tahun 1818. Namun, warna hijau yang ikonik baru diaplikasikan pada tahun 1837.
Sebelum dicat hijau, bangunan ini dikenal dengan nama-nama lain sesuai material atau warnanya saat itu. Sejak tahun 1837 itulah sebutan Kubah Hijau mulai melekat kuat hingga sekarang.
Sejarah Awal Berdirinya Masjid Nabawi
Masjid Nabawi memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak bulan Rabi'ul Awal tahun pertama Hijriah atau September 662 M. Rasulullah SAW membangun langsung masjid ini dengan bantuan para sahabat.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yang kemudian diikuti secara berurutan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Pengerjaan bangunan dilakukan secara gotong royong oleh umat Islam.
Pada awal berdiri, Masjid Nabawi hanya memiliki panjang 35 meter dan lebar 30 meter. Kondisi fisiknya sangat sederhana dengan lantai tanah berbatu serta atap yang terbuat dari jalinan pelepah kurma.
Lahan pembangunan masjid ini merupakan tanah wakaf dari Bani Najjar. Meskipun awalnya terdapat bangunan milik mereka di atas lahan tersebut, Bani Najjar dengan sukarela memberikannya untuk kepentingan dakwah Islam.
Perluasan dan Renovasi Besar-besaran
Seiring bertambahnya jumlah jemaah, Masjid Nabawi mengalami perbaikan pertama pada tahun 4 H dengan mengganti lantai menjadi batu bata. Perluasan wilayah masjid pertama kali dilakukan pada tahun 7 H.
Utsman bin Affan menjadi sosok yang membiayai seluruh pembebasan lahan untuk perluasan tersebut. Dana ini dikucurkan sekembalinya beliau dari peristiwa Perang Khaibar.
Salah satu renovasi paling detail terjadi pada masa Sultan Abdul Majid di tahun 1265 H. Proyek kecantikan masjid ini berlangsung selama 12 tahun, termasuk penambahan ukiran dan kaligrafi pada dinding serta tiang masjid.