Nabi Yakub menjadi figur sentral dalam pembentukan 12 suku Bani Israil yang berasal dari dua belas putranya sejak ribuan tahun lalu hingga mencapai masa kejayaan pada abad ke-10 SM. Sejarah panjang kabilah-kabilah ini terekam dalam catatan sejarah Islam sebagai pelajaran tentang keimanan dan kepemimpinan, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Minggu (19/4/2026).
Silsilah 12 kabilah besar ini didasarkan pada keturunan dari dua istri utama Nabi Yakub, yakni Lea dan Rahel, serta dua budak perempuan bernama Bilha dan Zilpa. Pembagian kelompok ini secara eksplisit juga ditegaskan dalam kitab suci melalui peristiwa-peristiwa sejarah yang dialami para keturunannya.
"Dan Kami bagi mereka ke dalam dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar" (QS Al-A'raf [7]: 160) bunyi kutipan ayat Al-Qur'an tersebut.
Dari Lea, Nabi Yakub memiliki enam putra yaitu Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon. Sementara dari Rahel, lahir Yusuf dan Benyamin, sedangkan dari Bilha lahir Dan serta Naftali, dan dari Zilpa lahir Gad serta Asyer.
Keturunan-keturunan ini memiliki peran strategis dalam sejarah kenabian. Suku Lewi menjadi garis keturunan para imam dan nabi seperti Musa dan Harun, sementara suku Yehuda menurunkan raja-raja sekaligus nabi seperti Dawud dan Sulaiman.
Integrasi dua belas kelompok ini tetap terjaga kuat hingga masa kepemimpinan Nabi Musa. Dalam sebuah peristiwa saat kaumnya mengalami kehausan, mukjizat tongkat Nabi Musa yang dipukulkan ke batu memancarkan dua belas mata air untuk masing-masing suku.
Setiap suku memperoleh warisan tanah pusaka di wilayah Kanaan secara turun-temurun. Namun, suku Lewi tidak mendapatkan wilayah khusus karena bertugas sebagai kaum imam, sementara suku Yusuf mendapatkan keistimewaan berupa pembagian wilayah bagi dua anaknya, Efraim dan Manasye.
Persatuan Bani Israil mulai mengalami keretakan setelah wafatnya Nabi Sulaiman. Wilayah kekuasaan terpecah menjadi dua, yakni Kerajaan Israel di utara yang mencakup sepuluh suku dan Kerajaan Yehuda di selatan yang dihuni oleh suku Yehuda dan Benyamin.
Kehancuran sepuluh suku di wilayah utara terjadi pada abad ke-8 SM akibat serangan bangsa Asyur yang menyebabkan penduduk terbunuh dan ditawan. Peristiwa invasi tersebut membuat sepuluh suku di utara hilang dari catatan sejarah, sehingga menyisakan suku Yehuda dan Benyamin sebagai keturunan yang menetap di Yerusalem.