Kemajuan teknologi luar angkasa kini memungkinkan para ilmuwan memantau fenomena laut ekstrem yang sebelumnya sulit ditangkap melalui pengamatan langsung di permukaan. Berdasarkan data satelit orbit Bumi, sebuah gelombang raksasa dengan ketinggian mencapai 35 meter terdeteksi di tengah Samudra Pasifik pada Desember 2024.
Lokasi kemunculan dinding air masif ini berada di wilayah utara Samudra Pasifik, tepatnya di antara Hawaii dan Kepulauan Aleutian. Seperti dilansir dari Detik iNET, fenomena alam ini terjadi jauh dari jalur pelayaran komersial maupun wilayah pantai.
Ketinggian gelombang tersebut setara dengan bangunan bertingkat 11 jika diukur secara vertikal dari dasar hingga puncak gelombang. Terbentuknya massa air yang luar biasa besar ini dipicu oleh akumulasi energi masif akibat kombinasi angin kencang dan badai besar di permukaan laut.
Analisis para peneliti menunjukkan bahwa sumber fenomena ini adalah badai kuat yang menghantam Samudra Pasifik utara pada Desember 2024 yang dikenal sebagai Storm Eddie. Saat badai tersebut berlangsung, rata-rata tinggi gelombang tercatat mencapai 20 meter dengan puncak ekstrem menyentuh 35 meter.
Melalui keterangan kepada media, para peneliti mengungkapkan bahwa pengukuran ilmiah ini membuktikan keberadaan fenomena yang sebelumnya hanya dianggap sebagai legenda para pelaut. Kini, fenomena tersebut dapat dipetakan secara akurat menggunakan bantuan teknologi.
Satelit Surface Water and Ocean Topography (SWOT) menjadi instrumen kunci yang mampu memetakan variasi permukaan laut di tengah lautan terbuka. Teknologi ini memberikan wawasan baru bagi ilmuwan mengenai dinamika laut dalam yang selama ini tidak terdeteksi oleh pantauan manusia.
"Gelombang ekstrem seperti ini, yang jauh dari pantai dan tidak terkait langsung dengan peristiwa darat seperti gempa atau tsunami, tetap menyimpan risiko tinggi bagi pelayaran jarak jauh, operasi laut lepas, dan infrastruktur lepas pantai," para peneliti menekankan.
Karakteristik gelombang ini yang menyerupai 'tembok air' mendadak menjadikannya sangat sulit diprediksi tanpa bantuan data satelit. Pemantauan dari luar angkasa membuka peluang besar dalam membangun peta risiko laut terbuka guna meningkatkan sistem peringatan dini bagi kapal-kapal yang melintas.
Integrasi data satelit ini diharapkan mampu memperbaiki akurasi prakiraan kondisi laut ekstrem di masa depan. Hal ini sangat krusial bagi keselamatan navigasi dan perlindungan berbagai infrastruktur strategis yang beroperasi di wilayah lepas pantai.