Sasana Bhagavadgita Surabaya Sajikan Kopi dengan Alunan Musik Gamelan Live

Sasana Bhagavadgita Surabaya Sajikan Kopi dengan Alunan Musik Gamelan Live
Foto: Ilustrasi Sasana Bhagavadgita Surabaya Sajikan Kopi dengan Alunan Musik Gamelan Live.

Kedai Sasana Bhagavadgita yang berlokasi di Jalan Dukuh Kupang 14 Nomor 10, Surabaya, menawarkan konsep unik berupa sajian kopi dengan iringan musik gamelan secara langsung pada Jumat, 17 April 2026. Tempat ini memadukan nuansa rumah tradisional Jawa dengan ruang refleksi bagi warga kota.

Bangunan kedai ini menyerupai rumah tua yang rimbun oleh pepohonan besar, jauh dari kesan industrial modern. Dilansir dari Detik Travel, pengelola mempertahankan struktur asli hunian yang dilengkapi dengan area joglo dan lesehan untuk memberikan ketenangan bagi pengunjung.

Manajer Sasana Bhagavadgita, M. Mursyid Tamam, menjelaskan bahwa penamaan kedai ini memiliki landasan filosofis yang dalam. Ia menyebut bahwa tempat ini dirancang untuk menjadi wadah bagi masyarakat yang sedang mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

"Sasana itu artinya tempat berkumpul. Sementara Bhagavadgita diambil dari kisah dalam kitab suci Hindu tentang kisah Krishna dan Arjuna di perang Mahabarata," ujar Tamam, Manajer Sasana Bhagavadgita.

Filosofi tersebut diadaptasi menjadi jiwa dari operasional kedai. Tamam menerangkan bahwa kisah keraguan Arjuna yang kemudian ditenangkan oleh Krishna menjadi inspirasi bagi pengunjung yang sedang merasa bimbang atau lelah.

"Jadi dikomparasikan, tempat ini adalah tempat orang-orang yang bingung dan resah. Jadi ketika orang-orang tersebut mengunjungi Sasana Bhagavadgita, dengan harapan bisa dapat satu kepastian dari arti kehidupan. Seluruh overthinking lah kalau bahasa anak sekarang, di sini bisa dapat kepastian dengan ketenangan yang kami suguhkan," imbuh Tamam, Manajer Sasana Bhagavadgita.

Koleksi gamelan kuningan yang berusia puluhan tahun menjadi daya tarik utama di ruang pengunjung. Perangkat musik tersebut meliputi gong, kendang, suling, hingga gambang yang diletakkan berdampingan dengan meja pelanggan.

"Ada juga saron demung. Kebetulan hari ini kita adakan event, jadi dikeluarin. Kalau hari-hari biasa kita keluarin yang alusan saja, nggak pakai balungan saron demung tadi soalnya dipakai sanggar juga," kata Tamam, Manajer Sasana Bhagavadgita.

Pengunjung tidak hanya sekadar mendengarkan musik, tetapi juga diperbolehkan untuk menyentuh dan mencoba memainkan instrumen tersebut. Langkah ini dilakukan untuk menghilangkan kesan mistis yang sering melekat pada alat musik tradisional tersebut.

"Selama ini gamelan sering dianggap mistis atau horor. Padahal ya nggak gitu. Gamelan itu cuma besi dipukul," ujar Tamam, Manajer Sasana Bhagavadgita.

Dekorasi kedai turut diperkuat dengan barang-barang antik milik keluarga pemilik, mulai dari mesin tik hingga telepon kabel. Tamam menyebutkan bahwa keaslian suasana tetap dijaga karena rumah tersebut masih dihuni oleh keluarga penggiat seni.

"Nggak cuma gamelan sama wayang aja, tapi semua dekorasi lawas ini milik kakungnya owner. Kakung itu kan orangnya ngeman primpen," kata Tamam, Manajer Sasana Bhagavadgita.

Kehadiran konsep ini mendapat apresiasi dari pengunjung yang menilai tempat tersebut efektif untuk mengenalkan tradisi kepada generasi muda. Salah satu pengunjung menyoroti bagaimana kenyamanan suasana dapat memicu kreativitas pengunjung melalui pementasan kecil.

"Bagus juga sih, jadi kita mengenalkan budaya ke kalangan muda yang sekarang sukanya modern gitu. Dengan kedai ini, mereka bisa berkarya, pentas kecil-kecilan seperti ini, jadi pengunjung apalagi yang suka dengan alunannya, merasa nyaman," kata Hera Marthaningdyah, Pengunjung.

Sasana Bhagavadgita secara rutin memutar gending Jawa setiap hari untuk menjaga atmosfer rumah kakek yang hangat bagi setiap tamu yang datang berkunjung.

Artikel terkait

Rekomendasi