PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) tengah mempersiapkan penawaran umum perdana atau IPO dengan melepas sekitar 20 persen saham perusahaan ke publik guna memperkuat struktur permodalan dan mempercepat pertumbuhan lini bisnis strategis.
Rencana aksi korporasi tersebut dilansir dari Investortrust pada wawancara eksklusif hari Rabu (16/04/2026), di tengah optimisme perusahaan terhadap fundamental ekonomi nasional dan pertumbuhan jangka panjang pasar modal domestik.
Langkah go public ini mencakup penguatan tiga lini bisnis utama perseroan, yaitu investasi strategis, wealth management, dan investment banking yang menjadi motor penggerak pertumbuhan masa depan.
Manajemen STB mencatat lonjakan kinerja keuangan signifikan pada periode 2022 hingga 2025 dengan kenaikan pendapatan dari Rp99,1 miliar menjadi Rp12,09 triliun, serta pertumbuhan laba bersih mencapai Rp12,06 triliun.
Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim menjelaskan posisi perusahaan sebagai investor yang mengedepankan strategi stock selection dan penciptaan nilai berkelanjutan menggunakan modal internal.
"Kami membangun dan mengembangkan STB karena percaya pada masa depan Indonesia. Bergabung dengan STB sebagai investor adalah bukti kepercayaan terhadap masa depan Indonesia," ujar Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Pihak manajemen menilai bahwa pertumbuhan pasar saham domestik bergerak selaras dengan perkembangan perekonomian nasional dalam jangka panjang.
"Kenaikan tersebut mencerminkan tren pertumbuhan jangka panjang pasar modal Indonesia yang sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional," kata Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Perusahaan membidik potensi keuntungan dari pergerakan pasar saham dengan menawarkan STB sebagai pilihan instrumen investasi yang kredibel bagi para pemodal.
"Dengan fondasi tersebut, STB menargetkan dapat memperoleh manfaat dari perkembangan pasar saham Indonesia ke depan. Kami menyampaikan bahwa investor yang percaya pada prospek ekonomi Indonesia dan pasar saham domestik, STB menjadi pilihan investasi yang layak dipertimbangkan," terang Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Optimisme terhadap ekonomi domestik tetap terjaga meski saat ini kondisi pasar keuangan sedang menghadapi berbagai tekanan akibat eskalasi konflik geopolitik global.
"Jika semua jenis infrastruktur sudah terbangun, kualitas sumber daya manusia bertambah (SDM) bagus dan regulasi semakin mendukung kemajuan dunia usaha, kami yakin bahwa ekonomi Indonesia akan melesat," terang Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Pertumbuhan ekonomi nasional juga dinilai berpeluang meningkat pesat berdasarkan perbandingan historis produk domestik bruto per kapita dengan negara-negara seperti Korea Selatan dan China.
"Maju-mundurnya bisnis tiga sektor ini mencerminkan kemajuan ekonomi Indonesia," ujar Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Perusahaan memposisikan diri sebagai kendaraan investasi jangka panjang melalui metode pendekatan penciptaan nilai serta pemilihan kualitas emiten yang tepat.
"Dengan pendekatan investasi jangka panjang dan fokus pada value creation atau penciptaan nilai, STB memposisikan diri sebagai salah satu kendaraan investasi yang ingin tumbuh bersama ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, keyakinan pendiri dan manajemen STB terhadap masa depan ekonomi Indonesia menjadi pertimbanganutama," ujar Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Komitmen investasi jangka panjang tersebut diwujudkan salah satunya melalui fasilitasi kemitraan strategis internasional pada portofolio saham yang dimiliki perseroan.
"Langkah ini mencerminkan peran STB tidak hanya sebagai investor, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat struktur kepemilikan dan ekspansi bisnis portofolio yang dipegang STB," ungkap Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Penggunaan modal internal memberikan keleluasaan penuh bagi STB untuk menahan aset investasi tanpa dibatasi oleh kewajiban divestasi jangka pendek.
"Kami tidak mengejar keuntungan jangka pendek. Kami membangun nilai," tegas Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Pendiri STB Miming Satyono, yang memulai cikal bakal grup melalui pendirian PT Samuel Sekuritas Indonesia pada 1992, memiliki rekam jejak luas dalam industri keuangan.
"Miming memiliki rekam jejak panjang sebagai bankir di Citibank pada masa ketika bank tersebut berada di puncak industri keuangan global. Dengan basis networking yang luas dan akses langsung ke berbagai kelompok usaha besar hingga konglomerasi, dia mendirikan Samuel Sekuritas tahun 1992," jelas Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Meskipun mayoritas pendapatan tahun 2025 ditopang oleh unrealized gains sebesar Rp11 triliun, manajemen menegaskan hal itu mencerminkan kenaikan nilai intrinsik portofolio secara riil.
"Unrealized gains memang belum menjadi kas, tetapi mencerminkan peningkatan nilai portofolio kami secara nyata. Unrealized gains sangat bergantung pada kondisi pasar, sehingga tidak selalu berulang dengan nilai pertumbuhan yang sama," katanya Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).
Terkait realisasi penawaran saham perdana ke publik, perusahaan menyatakan bahwa linimasa pelaksanaan masih sangat bergantung pada stabilitas kondisi politik dunia.
"Timeline dapat IPO saham STB bisa bergeser, jika tensi geopolitik berlanjut. Konflik AS-Israel dengan Iran masih berlangsung, dan kami berharap situasi ini segera mereda," ujar Tae Yong Shim, Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB).