Pertumbuhan masif pada segmen Fiber-to-the-Home (FTTH) dan Fixed Wireless Access (FWA) diproyeksikan menjadi motor utama bisnis PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge. Kinerja solid yang tercatat sepanjang 2025 tersebut diperkirakan bakal terus berlanjut pada tahun ini.
Dikutip dari Investortrust, penguatan sektor bisnis ini diperkirakan mampu mendongkrak pendapatan perusahaan hingga melesat ke angka Rp 4,03 triliun. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan perolehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 1,65 triliun.
Meski demikian, laba bersih emiten yang dikendalikan oleh Hashim Djojo Hadikusumo ini diprediksi mengalami penurunan dari Rp 409... miliar menjadi Rp 368 miliar untuk tahun ini. Namun, angka keuntungan bersih tersebut diharapkan kembali melonjak hingga mencapai Rp 1,57 triliun pada 2027 mendatang.
Potensi lonjakan kinerja keuangan ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham WIFI dari level Rp 4.400 menjadi Rp 4.500 per lembar dengan rekomendasi beli. Valuasi saham dinilai masih menarik pada level 9,5x dan 4,0x EV/EBITDA masing-masing untuk tahun 2026 dan 2027.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta, mengungkapkan bahwa bisnis FTTH milik Surge berjalan sesuai dengan ekspektasi. Perusahaan berhasil mencatatkan 2,5 juta home-pass (HP) serta 1,5 juta home-connect (HC) sepanjang tahun lalu.
Pencapaian operasional tersebut berhasil menyumbang pendapatan sebesar Rp 541 miliar pada tahun lalu. Angka ini memberikan kontribusi sebesar 32% terhadap total keseluruhan pendapatan perseroan.
Selain lini infrastruktur internet, pendapatan dari sektor periklanan juga mengalami pertumbuhan sebesar 43% secara tahunan (yoy) berkat peningkatan mobilitas kaum komuter di Pulau Jawa. Bahkan pada kuartal IV-2025, pertumbuhan iklan ini melesat hingga 316% yang dipengaruhi oleh faktor musiman.
Demi memuluskan target tersebut, perusahaan telah menggelontorkan belanja modal (capex) untuk FTTH dan jaringan utama (backbone) senilai Rp 2,4 triliun pada 2025. Dari total dana tersebut, sekitar 30% masih berstatus sebagai aset dalam penyelesaian.
Saat ini, perseroan juga tengah melakukan perluasan jaringan backbone di wilayah Sumatera sepanjang kurang lebih 1.087 kilometer. Langkah strategis ini dilakukan guna menyokong ekspansi bisnis FTTH ke depan.
Target Pelanggan Baru dan Strategi Pendanaan
Pihak BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa manajemen mengandalkan pengembangan teknologi FWA sebagai mesin pertumbuhan baru. Manajemen mematok target 3,2 juta pelanggan FWA untuk tahun ini.
Target tersebut berada di atas perkiraan konservatif yang berada di kisaran 2,3 juta pelanggan. Proyeksi ini dibuat setelah mempertimbangkan adanya jeda waktu konversi dari proses pembangunan jaringan menuju tahap akuisisi pelanggan.
Sementara itu, lini bisnis FTTH ditargetkan tumbuh signifikan hingga mencapai 4 juta HP dan 2,3 juta HC pada tahun 2026. Analisis riset memperkirakan penambahan bersih jaringan home-pass berada di angka 1 juta per tahun sehingga bisa menyentuh 3,5 juta.
Agenda ekspansi besar-besaran ini membutuhkan dukungan belanja modal yang diperkirakan berkisar pada angka Rp 4,3 triliun pada 2026 dan Rp 3,0 triliun pada 2027. Guna memenuhi kebutuhan dana tersebut, manajemen membuka peluang untuk melakukan refinancing obligasi perusahaan.
Kenaikan target harga saham Surge didukung oleh revisi naik proyeksi EBITDA sebesar 5,2% hingga 18,0% untuk periode 2026-2028. Hal ini sejalan dengan kuatnya kontribusi sektor FTTH serta asumsi pendapatan iklan yang stabil pada kisaran Rp 250... miliar per tahun.