Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) ditutup melemah pada zona merah pada perdagangan sesi satu hari Jumat (8/5/2026) akibat tekanan aksi ambil untung oleh para investor. Penurunan harga ini terjadi setelah emiten nikel tersebut sempat mencatatkan tren penguatan yang konsisten sejak awal tahun ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir dari Money, saham INCO merosot 350 poin atau setara 5,56 persen menuju level Rp 5.950 per saham. Meskipun dibuka pada posisi Rp 6.300, tekanan jual yang masif sepanjang sesi membawa harga menyentuh titik terendah di Rp 5.925.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia tetap memberikan rekomendasi beli untuk saham INCO dengan target harga di angka Rp 7.400 per saham. Analis Muhammad Farras Farhan menilai valuasi perseroan masih menarik karena diperdagangkan pada level 12,5 kali forward P/E 2026 meskipun operasional kuartal I-2026 mengalami tekanan.
"Kami mempertahankan rekomendasi BUY dengan TP tetap di Rp 7.400, berdasarkan valuasi 21,0x P/E dan 10,5x EV/EBITDA 2026F," ujar Farras, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Penetapan target tersebut mempertimbangkan potensi pertumbuhan laba yang didorong oleh peningkatan penjualan bijih nikel dan permintaan high-pressure acid leach (HPAL). Farras juga menyoroti kinerja INCO yang telah melampaui IHSG sebesar 34,3 persen secara year to date.
Secara operasional, INCO mencatatkan penurunan volume penjualan nickel matte sebesar 19,7 persen secara tahunan menjadi 13.727 ton. Namun, hal ini terkompensasi oleh kenaikan rata-rata harga jual (ASP) yang mencapai 14.214 dollar AS per ton atau tumbuh 19,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih perseroan tercatat melonjak signifikan hingga 100,1 persen secara tahunan menjadi 44 juta dollar AS. EBITDA juga mengalami pertumbuhan sebesar 51,5 persen secara tahunan menjadi 80 juta dollar AS dengan margin yang berada di level 32 persen.
Kendati demikian, pihak sekuritas melakukan revisi pada proyeksi pendapatan tahun 2026 menjadi 1,4 miliar dollar AS. Penyesuaian ini dilakukan karena adanya kenaikan biaya bahan bakar dan sulphuric acid yang mulai menekan biaya operasional pada fasilitas smelter.