Saham BREN dan DSSA Anjlok Imbas Ancaman Delisting MSCI

Saham BREN dan DSSA Anjlok Imbas Ancaman Delisting MSCI
Foto: Ilustrasi Saham BREN dan DSSA Anjlok Imbas Ancaman Delisting MSCI.

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) merosot tajam pada perdagangan Selasa pagi akibat ancaman penghapusan dari indeks global oleh MSCI Inc bagi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, seperti dilansir dari Investortrust.

Sentimen negatif dari penyusun indeks global tersebut memicu aksi jual masif di pasar modal domestik yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sebesar 0,70 persen ke level 7.540.

Penurunan ini berbanding terbalik dengan kondisi bursa regional Asia yang mayoritas bergerak di zona hijau pada hari yang sama.

Langkah tegas MSCI menyasar perusahaan dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC), di mana kepemilikan saham BREN tercatat mencapai 97,31 persen dan DSSA sebesar 95,76 persen.

Kondisi kepemilikan yang sangat terkonsentrasi tersebut dinilai membuat pergerakan saham menjadi volatil dan menyulitkan transaksi bagi dana lindung nilai maupun investor institusi besar.

Akibatnya, saham BREN ambles 6,4 persen menjadi Rp 6.175, sementara saham DSSA anjlok hingga 11,6 persen ke posisi Rp 2,890 sesaat setelah pasar dibuka.

Tekanan terhadap IHSG semakin diperparah oleh penurunan saham perbankan blue-chip PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 4,35 persen karena memasuki tanggal ex-dividend.

Kebijakan MSCI yang mempertahankan status pembekuan sementara atau interim treatment untuk pasar Indonesia hingga Index Review Mei 2026 memastikan tidak akan ada penambahan bobot maupun peningkatan status saham lokal dalam waktu dekat.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai keputusan penahanan status ini menunjukkan bahwa pihak penyusun indeks masih bersikap waspada terhadap reformasi pasar saham Indonesia.

"In the May 2026 review, they chose to hold back. This shows that MSCI still wants to ensure the implementation of reforms and data quality are truly solid before making further decisions," ujar Hendra Wardana, Founder of Stocknow.id pada Selasa.

Hendra Wardana juga memberikan peringatan bahwa kebijakan penangguhan ini berpotensi membuat aliran modal asing ke pasar saham domestik tetap tertahan dalam jangka pendek.

Merespons situasi tersebut, pihak otoritas bursa terus berupaya melakukan langkah diplomasi dan komunikasi intensif dengan pengelola indeks global untuk menjelaskan kondisi pasar riil.

Acting President Director of the IDX, Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa perwakilan Bursa Efek Indonesia telah menemui pihak MSCI pada 16 April lalu untuk memaparkan empat poin proposal reformasi transparansi.

"We appreciate that the four proposals we delivered have been acknowledged by MSCI," kata Jeffrey Hendrik, Acting President Director of the IDX dalam pesan singkat pada Selasa.

Meskipun proposal tersebut telah diapresiasi, MSCI menegaskan tetap membuka peluang penggunaan data pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen untuk memangkas estimasi free float yang bisa memicu delisting lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi