Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus berada dalam tren penurunan yang cukup signifikan hingga mendekati level psikologis baru. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda terpantau melemah sebanyak 82 poin dan menyentuh angka Rp 17.921 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menjelaskan bahwa tekanan ini dipicu oleh perpaduan faktor eksternal dan domestik. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan terhadap dolar AS melonjak tajam di pasar keuangan saat ini.
Salah satu pemicu utama yang menekan posisi rupiah adalah meroketnya harga minyak mentah di pasar internasional. Saat ini, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) sudah menyentuh angka US$ 94,58 per barel, sementara jenis Brent merangkak naik ke posisi US$ 96,72 per barel.
Ibrahim mengungkapkan kepada media bahwa penguatan harga minyak dunia tersebut secara langsung memberikan dampak negatif bagi mata uang lokal. Lonjakan harga energi global ini memaksa rupiah kembali terperosok lebih dalam pada perdagangan hari ini.
Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed
Dari sisi eksternal, situasi geopolitik yang kian memanas antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk ketidakpastian ekonomi global. Hubungan diplomatik kedua negara tersebut meruncing akibat perselisihan terkait program pengayaan uranium yang dilakukan oleh pihak Iran.
Tidak hanya itu, potensi gesekan militer antara Iran dan Israel juga menjadi kekhawatiran besar bagi para pelaku pasar. Iran diprediksi akan mengambil peran lebih aktif dalam konflik di Timur Tengah setelah serangan Israel ke wilayah Lebanon Selatan terus berlanjut.
Eskalasi konflik bersenjata ini secara otomatis mengancam kelancaran pasokan energi dunia dan memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut. Dampaknya, Amerika Serikat menghadapi ancaman inflasi yang tinggi akibat beban biaya energi, transportasi, serta logistik yang membengkak.
Ibrahim berpendapat bahwa situasi inflasi tersebut akan memaksa Bank Sentral AS atau The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Bahkan, ada kemungkinan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga satu kali lagi di sisa tahun 2026 jika tekanan inflasi belum mereda.
Faktor eksternal utama yang mempengaruhi pergerakan pasar :
- Kenaikan harga minyak mentah dunia yang signifikan.
- Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran, Israel, dan AS.
- Ketidakpastian kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat.
- Meningkatnya inflasi global akibat biaya logistik dan energi.
Kombinasi faktor-faktor internasional ini menciptakan sentimen negatif yang membuat investor cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang dolar AS yang dianggap lebih aman.
Tekanan Ekonomi dari Dalam Negeri
Beralih ke faktor domestik, lonjakan harga minyak dunia juga memicu kebutuhan dolar AS yang jauh lebih besar untuk mendanai impor energi nasional. Selain itu, kebutuhan devisa di dalam negeri meningkat pesat seiring dengan masa pembayaran dividen perusahaan asing dan pelunasan utang yang jatuh tempo.
Ibrahim menjelaskan bahwa besarnya permintaan dolar untuk keperluan korporasi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin sulit dibendung. Di sisi lain, muncul fenomena di masyarakat yang mulai mengalihkan simpanan mereka dari rupiah ke mata uang asing.
Tren masyarakat yang memindahkan dana dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing (valas) turut memperparah kelangkaan dolar di pasar lokal. Perubahan perilaku ini dianggap menjadi salah satu penyebab mengapa pelemahan rupiah terjadi begitu tajam belakangan ini.
Rincian kurs rupiah dan komoditas energi :
| Indikator Ekonomi | Nilai / Posisi |
|---|---|
| Nilai Tukar Rupiah | Rp 17.921 per Dolar AS |
| Pelemahan Hari Ini | 82 Poin |
| Harga Minyak WTI | US$ 94,58 per Barel |
| Harga Minyak Brent | US$ 96,72 per Barel |
Data di atas menunjukkan betapa tingginya ketergantungan nilai tukar rupiah terhadap fluktuasi harga energi di pasar global yang sedang tidak stabil.
Riwayat Pergerakan Rupiah Sebelumnya
Sebelum menyentuh level saat ini, nilai tukar rupiah pada Selasa (2/6/2026) sebenarnya sempat ditutup di angka Rp 17.839 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 34 poin dibandingkan perdagangan hari Senin yang sempat menguat ke level Rp 17.805.
Menurut Ibrahim, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tetap menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan nilai tukar. Meski Donald Trump mengklaim adanya komunikasi dengan Teheran, pihak Iran tampaknya sudah tidak memedulikan pesan dari Washington DC.
Kondisi keamanan di wilayah perbatasan Israel dan Lebanon yang melibatkan Iran juga menciptakan kecemasan tersendiri bagi investor. "Iran kemungkinan besar akan ikut campur dalam perang tersebut, yang memicu penguatan indeks dolar secara signifikan," ujar Ibrahim.
Selain masalah konflik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga memberikan dampak tidak langsung terhadap pasar uang. Trump baru saja menandatangani aturan mengenai perubahan tarif impor untuk komoditas seperti tembaga, besi, dan aluminium.
Kebijakan tersebut menurunkan tarif beberapa alat pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen sebagai bagian dari strategi perdagangan AS. Hal ini memberikan sentimen tambahan bagi kekuatan dolar AS di hadapan mata uang negara berkembang lainnya.
Penyebab utama dari sisi domestik yang perlu diperhatikan :
- Tingginya volume impor minyak yang mencapai 1,5 juta barel per hari.
- Kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.
- Ketidakpastian terkait kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
- Pergeseran simpanan masyarakat ke bentuk valuta asing.
Berbagai faktor internal ini saling berkaitan dalam menekan ketahanan nilai tukar rupiah, terutama saat pasokan dolar di dalam negeri tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada.
Ibrahim juga menyoroti bahwa efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) masih memerlukan waktu untuk memberikan dampak positif yang nyata. Meskipun kebijakan ini sempat memberikan angin segar pada awal pekan, ketidakpastian komitmen para eksportir membuat rupiah kembali terkoreksi tajam.
Eksportir Indonesia sering kali memiliki keterikatan kontrak dengan pihak luar negeri terkait penempatan dana mereka. Hal inilah yang ditengarai menghambat aliran masuk dolar secara maksimal ke pasar domestik untuk menstabilkan kurs rupiah.