Bank Indonesia (BI) akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait kondisi nilai tukar rupiah yang terus merosot tajam terhadap dolar AS. Saat ini, mata uang Garuda terpantau semakin mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (3/6), rupiah bahkan sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp17.900. Pelemahan ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan masyarakat luas.
Pergerakan Rupiah di Pasar Spot
Mengutip data dari Bloomberg pukul 13.57 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.954 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 116 poin atau turun sekitar 0,65 persen dari penutupan sebelumnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran karena tren penurunan terjadi secara konsisten dalam beberapa waktu terakhir. BI menegaskan akan terus memantau dinamika yang terjadi di pasar keuangan, baik secara global maupun domestik.
Strategi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa bank sentral akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terukur. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketahanan ekonomi eksternal Indonesia.
BI juga berkomitmen untuk selalu hadir di pasar guna memastikan kecukupan likuiditas valuta asing (valas). Upaya ini dilakukan agar mekanisme pasar tetap berjalan dengan normal di tengah tekanan global.
Langkah konkret yang diambil BI untuk menstabilkan rupiah adalah sebagai berikut:
- Menerapkan kebijakan batas maksimal pembelian valas tunai tanpa underlying sebesar US$25 ribu per bulan bagi setiap pelaku pasar.
- Mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan likuiditas valas di dalam negeri.
- Mendorong skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional.
- Memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memitigasi risiko gejolak ekonomi.
Berbagai langkah di atas diharapkan mampu meredam volatilitas rupiah yang saat ini sangat tinggi. Selain itu, pembatasan pembelian valas tunai diharapkan dapat menekan aksi spekulasi yang merugikan pasar.
Kerja Sama Internasional dan Sinergi Domestik
Salah satu strategi jangka panjang BI adalah memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Saat ini, Indonesia telah menjalin kemitraan tersebut dengan sejumlah negara strategis di kawasan dan dunia.
Daftar negara mitra yang telah bekerja sama dengan Indonesia dalam skema LCT meliputi:
| Wilayah | Negara Mitra Kerja Sama LCT |
|---|---|
| Asia Timur | China, Jepang, Korea Selatan |
| Asia Tenggara | Malaysia, Thailand |
| Timur Tengah | Uni Emirat Arab |
Tabel tersebut merangkum negara-negara yang sudah menyepakati transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing. Skema ini dipercaya efektif dalam menjaga stabilitas nilai tukar dari guncangan dolar AS.
Ramdan menambahkan bahwa menjaga kekuatan rupiah tidak bisa dilakukan oleh BI sendirian. Diperlukan koordinasi yang kuat dengan Pemerintah, OJK, sektor perbankan, hingga dunia usaha agar mekanisme pasar tetap sehat.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam menghadapi ketidakpastian pasar global. Dengan demikian, ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga meskipun tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.