Rupiah Nyaris Rp18.000, Cek Kurs Dolar Terbaru di BCA dan BNI Hari Ini 2026

Rupiah Nyaris Rp18.000, Cek Kurs Dolar Terbaru di BCA dan BNI Hari Ini 2026
Foto: Rupiah Nyaris Rp18.000, Cek Kurs Dolar Terbaru di BCA dan BNI Hari Ini 2026. (Illustration by Pexels)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami tekanan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat harga jual dolar di sejumlah bank besar nasional melambung tinggi hingga mendekati level psikologis baru.

Berdasarkan data perdagangan pada Rabu, 3 Juni 2026, nilai jual dolar AS di beberapa institusi perbankan bahkan telah menembus angka Rp 17.900. Lonjakan ini terjadi seiring dengan melemahnya performa mata uang Garuda di pasar spot yang terus dibayangi sentimen negatif.

Berikut adalah rincian kurs dolar AS di beberapa bank besar per 3 Juni 2026:

Nama Bank Kurs Beli (Rp) Kurs Jual (Rp)
Bank Central Asia (BCA) e-Rate 17.917 17.937
Bank Mandiri 17.870 17.900
Bank Negara Indonesia (BNI) 17.910 17.930
Bank Rakyat Indonesia (BRI) e-Rate 17.778 17.920

Data di atas memperlihatkan bahwa dolar AS konsisten bertahan di zona tinggi yang nyaris menyentuh Rp 18.000. Situasi ini menunjukkan adanya tekanan berat yang masih menghantui nilai tukar rupiah hingga saat ini.

Kondisi Rupiah di Pasar Spot

Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, rupiah langsung mencatatkan pelemahan di pasar valuta asing. Mata uang domestik ini merosot sekitar 39 poin atau setara 0,22 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya.

Nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp 17.878 per dolar AS, setelah sebelumnya ditutup di angka Rp 17.839. Bahkan dalam fluktuasi harian atau intraday, rupiah sempat terjerembap lebih dalam hingga menyentuh level Rp 17.926 per dolar AS.

Pelemahan yang berkelanjutan ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan regulator. Kenaikan harga mata uang asing ini juga mulai berdampak pada sektor riil, termasuk potensi kenaikan harga barang-barang impor.

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menjelaskan bahwa tren negatif ini dipicu oleh banyak faktor. Menurutnya, ada kombinasi antara tekanan global dan kebutuhan domestik yang mendorong tingginya permintaan terhadap dolar AS.

Faktor utama yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah:

  • Lonjakan Harga Minyak Dunia: Kenaikan harga komoditas energi global secara langsung menekan neraca perdagangan.
  • Ketegangan Geopolitik: Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel, meningkatkan risiko pasar.
  • Gangguan Jalur Distribusi: Kekhawatiran akan hambatan logistik di Selat Hormuz memicu ketidakpastian pasokan energi.
  • Kebijakan Suku Bunga AS: Potensi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
  • Peningkatan Biaya Impor: Kenaikan harga energi global memaksa kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor meningkat tajam.

Ibrahim menekankan bahwa saat ini rupiah sudah melemah cukup dalam hingga mencapai angka Rp 17.921. Hal ini diperparah oleh penguatan harga minyak mentah jenis WTI yang berada di level US$ 94,58 per barel.

Selain itu, harga minyak jenis Brent juga mengalami tren kenaikan hingga mencapai US$ 96,72 per barel. Tingginya harga energi ini memicu kekhawatiran karena bisa memperbesar defisit transaksi berjalan Indonesia akibat ketergantungan pada impor BBM.

Dampak Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Isu politik internasional juga memainkan peran besar dalam volatilitas nilai tukar saat ini. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program pengayaan uranium telah menciptakan suasana ketidakpastian di pasar keuangan global.

Potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel turut mengancam stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi yang tidak menentu ini membuat para investor cenderung mengalihkan aset mereka ke tempat yang lebih aman atau safe haven.

Dolar Amerika Serikat menjadi pilihan utama investor di tengah situasi krisis seperti sekarang. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS melonjak drastis, yang secara otomatis melemahkan mata uang dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan harga energi global ini diprediksi akan mengerek angka inflasi di Amerika Serikat. Biaya transportasi dan logistik yang membengkak di sana akan memberikan tekanan bagi otoritas moneter AS.

Ibrahim memaparkan bahwa Federal Reserve atau Bank Sentral AS kemungkinan besar akan mengambil langkah antisipatif. The Fed diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi menaikkannya satu kali lagi pada tahun ini.

Proyeksi suku bunga AS yang tetap tinggi dalam waktu lama menjadi pukulan tambahan bagi rupiah. Selama dolar AS tetap kuat dan suku bunga tinggi bertahan, tekanan terhadap mata uang nasional diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam jangka pendek.

Masyarakat dan pelaku usaha kini perlu mencermati pergerakan kurs di perbankan yang terus bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar AS. Langkah-langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia sangat dinantikan untuk meredam gejolak yang sedang terjadi di pasar uang.

Artikel terkait

Rekomendasi