Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.880 per Dolar AS Sore Ini, Simak Update Terbaru 2026

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.880 per Dolar AS Sore Ini, Simak Update Terbaru 2026
Foto: Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.880 per Dolar AS Sore Ini, Simak Update Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)

Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan tren negatif pada penutupan perdagangan akhir pekan ini. Mata uang Garuda harus rela terperosok ke zona merah saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data perdagangan pada Jumat sore, 29 Mei 2026, rupiah parkir di level Rp17.880 per dolar AS. Posisi ini menunjukkan penurunan sebesar 35 poin atau setara dengan 0,20 persen dari penutupan sebelumnya.

Kondisi Mata Wang di Kawasan Asia dan Global

Pergerakan mata uang di Asia terpantau sangat bervariatif dalam merespons dominasi dolar AS hari ini. Beberapa mata uang negara tetangga justru berhasil mencatatkan penguatan tipis di tengah tekanan global.

Daftar performa mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS:

  • Ringgit Malaysia: Menguat sebesar 0,27 persen.
  • Yuan China: Terapresiasi sebanyak 0,12 persen.
  • Peso Filipina: Naik tipis sebesar 0,03 persen.
  • Won Korea Selatan: Mengalami koreksi tajam hingga 1,08 persen.
  • Dolar Singapura: Melemah sebesar 0,16 persen.
  • Yen Jepang: Turun tipis sekitar 0,03 persen.
  • Dolar Hong Kong: Terdepresiasi sebanyak 0,02 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar di Asia belum sepenuhnya seragam. Sebagian besar mata uang masih berjuang menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Sentimen negatif ternyata tidak hanya menghantam mata uang Asia, tetapi juga merambah ke negara-negara maju. Mayoritas mata uang utama dunia tercatat melemah, kecuali franc Swiss yang cenderung bergerak stagnan.

Data nilai tukar mata uang utama negara maju:

Mata Uang Perubahan Nilai
Euro Eropa Turun 0,12%
Poundsterling Inggris Melemah 0,17%
Dolar Australia Koreksi 0,11%
Dolar Kanada Turun 0,12%

Tabel di atas memperlihatkan bahwa dolar AS sedang berada dalam posisi yang sangat kuat terhadap mata uang utama dunia. Hal ini secara langsung memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

Faktor Pemicu Lemahnya Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa terkaparnya rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, pelaku pasar sedang mencermati laporan terkait kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Ibrahim menambahkan bahwa kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang mempertahankan suku bunga tinggi juga menjadi momok utama. Data inflasi di Negeri Paman Sam yang lebih tinggi dari ekspektasi membuat pasar khawatir suku bunga tidak akan segera turun.

Poin-poin penyebab tekanan dari sisi domestik:

  • Arus Modal Keluar: Banyak investor asing yang menarik dana mereka dari pasar keuangan Indonesia.
  • Defisit Fiskal: Munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi anggaran negara.
  • Kebutuhan Korporasi: Tingginya permintaan dolar AS untuk keperluan impor dan pembayaran utang luar negeri perusahaan.

Kebutuhan dolar yang meningkat di dalam negeri tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup. Kondisi inilah yang membuat posisi rupiah semakin terjepit di akhir pekan ini.

Kebijakan The Fed yang tetap "hawkish" atau ketat memicu pelarian modal dari pasar negara berkembang ke aset yang lebih aman. Ibrahim menegaskan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak cukup signifikan dari fenomena pelarian modal ini.

Artikel terkait

Rekomendasi