Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah menjadi sorotan utama bagi para pelaku industri multifinance di tanah air. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga kendaraan bermotor, terutama untuk unit yang masih mengandalkan komponen impor dari luar negeri.
Selain potensi lonjakan harga, depresiasi mata uang Garuda ini diprediksi akan memberikan dampak berantai terhadap minat masyarakat dalam mengajukan kredit kendaraan. Risiko penurunan kualitas pembiayaan juga menjadi perhatian serius bagi perusahaan pembiayaan di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.
Respons Adira Finance Terhadap Gejolak Kurs
Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), Gani, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah merupakan indikator krusial yang terus dipantau perusahaan. Menurutnya, pelemahan nilai tukar dapat memaksa produsen melakukan penyesuaian harga jual kendaraan di pasar domestik.
Gani menjelaskan bahwa kenaikan harga pada model kendaraan dengan komponen impor tinggi dapat menekan daya beli masyarakat. Hal ini secara otomatis akan memengaruhi pertimbangan calon konsumen dalam mengambil keputusan pembelian atau pengajuan pembiayaan baru.
Meski demikian, dampak dari pelemahan kurs ini tidak serta-merta dirasakan secara seragam oleh seluruh lapisan pasar. Gani berpendapat bahwa efeknya sangat bergantung pada jenis kendaraan, skema kredit yang dipilih, hingga profil kebutuhan masing-masing nasabah.
Antisipasi terhadap kualitas pembiayaan juga menjadi prioritas, terutama jika kenaikan harga unit terjadi bersamaan dengan meningkatnya beban biaya hidup masyarakat. Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi mengganggu kelancaran pembayaran cicilan dari para debitur.
Berdasarkan data performa perusahaan hingga April 2026, berikut adalah capaian penyaluran pembiayaan Adira Finance:
- Total penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor mencapai angka Rp 11,3 triliun.
- Kontribusi utama berasal dari segmen kendaraan roda dua dan roda empat yang masih menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan ekonomi, minat masyarakat terhadap kepemilikan kendaraan melalui Adira Finance masih terjaga cukup baik hingga awal kuartal kedua tahun ini.
Pandangan CIMB Niaga Auto Finance (CNAF)
Senada dengan Adira Finance, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), Ristiawan Suherman, turut memberikan pandangannya. Ia menilai tekanan terhadap industri pembiayaan kendaraan kemungkinan besar akan terasa dalam jangka pendek akibat volatilitas rupiah.
Ristiawan memproyeksikan akan terjadi perlambatan pada sisi permintaan pembiayaan kendaraan jika rupiah terus melemah. Kenaikan harga unit kendaraan di level diler menjadi pemicu utama yang membuat calon nasabah cenderung menahan diri.
Selain faktor permintaan, Ristiawan juga menggarisbawahi adanya risiko terhadap kualitas portofolio kredit perusahaan. Jika kemampuan bayar nasabah tergerus oleh inflasi dan pelemahan mata uang, maka rasio kredit bermasalah bisa saja meningkat.
Walaupun menghadapi tantangan yang cukup berat, pihak CNAF tetap optimistis bahwa target pertumbuhan moderat dapat tercapai hingga pengujung tahun. Strategi yang diterapkan adalah dengan lebih selektif dalam memilih calon debitur.
Beberapa langkah strategis dan data operasional yang dijalankan oleh CNAF antara lain adalah:
- Fokus pada akuisisi nasabah yang memiliki profil risiko rendah dan rekam jejak kredit yang baik.
- Memperketat sistem pengawasan dan monitoring terhadap kualitas portofolio pembiayaan yang sedang berjalan.
- Penyaluran pembiayaan baru untuk mobil baru maupun bekas telah menyentuh angka Rp 1,97 triliun per April 2026.
Langkah-langkah preventif ini diambil guna memastikan kesehatan finansial perusahaan tetap terjaga di tengah fluktuasi nilai tukar yang tidak menentu.
Optimisme BRI Finance di Tengah Volatilitas
Di sisi lain, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) melihat masih ada ruang untuk tumbuh meskipun rupiah sedang bergejolak. Perusahaan yakin bahwa kebutuhan mobilitas masyarakat akan tetap menjadi penggerak utama pasar otomotif nasional.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengakui adanya potensi dampak pada penyesuaian harga kendaraan. Kendaraan dengan kandungan impor yang dominan dipastikan akan mengalami kenaikan harga jual yang cukup signifikan.
Namun, Ramadhani menegaskan bahwa permintaan pembiayaan sejauh ini masih tergolong resilien atau memiliki daya tahan yang kuat. Perusahaan terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap proses persetujuan kredit guna memitigasi risiko di masa depan.
BRI Finance juga berupaya tetap adaptif dengan menyesuaikan strategi bisnis mengikuti dinamika pasar yang berkembang. Penguatan manajemen risiko menjadi kunci agar perusahaan tetap kompetitif namun tetap aman dari sisi permodalan.
Berikut adalah ringkasan data kualitas dan komposisi pembiayaan pada BRI Finance per April 2026:
| Indikator Pembiayaan | Nilai / Persentase |
|---|---|
| Rasio Non-Performing Financing (NPF) | 2,40% |
| Kontribusi Mobil Baru | 34,75% |
| Kontribusi Mobil Bekas | 8,82% |
Data di atas menunjukkan bahwa rasio pembiayaan bermasalah (NPF) di BRI Finance masih berada dalam batas aman sesuai ketentuan regulator. Komposisi pembiayaan tetap didominasi oleh segmen mobil baru yang memegang porsi lebih dari sepertiga total portofolio.
Ramadhani menilai prospek bisnis hingga akhir tahun 2026 tetap menjanjikan karena kendaraan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi mobilitas masyarakat. Segmen pasar tertentu diyakini akan tetap stabil meskipun terjadi fluktuasi pada nilai tukar rupiah.
Untuk menjaga kinerja, perusahaan berkomitmen terus memperkuat manajemen risiko serta menyesuaikan strategi berdasarkan kemampuan ekonomi konsumen. Hal ini dilakukan agar industri multifinance tetap bisa menyokong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.