Seorang wanita lanjut usia berusia 65 tahun menunjukkan ketegaran luar biasa saat menghadapi musibah kebakaran di Jalan Krendang Barat, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Meski rumahnya telah hangus terbakar, lansia tersebut tetap harus berjuang melawan penyakit gagal ginjal dan jantung di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian.
Kisah ini menjadi sorotan karena korban diwajibkan menjalani prosedur medis hemodialisis atau cuci darah secara rutin. Kondisi fisiknya yang lemah mengharuskan adanya penanganan medis yang stabil agar nyawanya tidak terancam meskipun sedang berada di lokasi penampungan sementara.
Sofi, putri dari korban yang kini berusia 33 tahun, menceritakan kondisi ibunya dengan penuh haru di posko pengungsian Musala Al-Hikmah. Ia menjelaskan bahwa sang ibu telah mengidap komplikasi serius pada organ ginjal dan jantungnya selama enam bulan terakhir.
Menurut Sofi, prosedur cuci darah tersebut tidak boleh terlewati dan wajib dilakukan sebanyak dua kali dalam satu pekan. "Ibu saya harus menjalani perawatan ini setiap hari Rabu dan Sabtu tanpa kecuali," tuturnya saat diwawancarai pada Jumat (29/5/2026).
Tragedi kebakaran tersebut tidak hanya meluluhlantakkan bangunan rumah, tetapi juga membawa dampak psikologis yang berat bagi korban lansia tersebut. Sofi mengungkapkan bahwa kesehatan ibunya sempat menurun secara drastis karena mengalami guncangan batin atau syok yang hebat.
Kepanikan keluarga semakin bertambah ketika menyadari bahwa dokumen-dokumen penting terkait rekam medis dan persediaan obat-obatan sang ibu ikut terbakar. Segala berkas administrasi yang biasanya digunakan untuk rujukan ke rumah sakit kini sudah menjadi abu bersama harta benda lainnya.
Beruntung, pihak Dinas Kesehatan bertindak responsif dengan memberikan kepastian pelayanan kesehatan darurat bagi warga terdampak. Langkah cepat ini diambil agar jadwal perawatan cuci darah korban pada hari Sabtu (30/5/2026) dapat berjalan sesuai rencana semula.
Pemerintah telah menyiapkan dukungan fasilitas transportasi medis khusus bagi korban yang membutuhkan penanganan mendesak. "Kami sangat bersyukur karena pihak posko telah memfasilitasi ambulans untuk menjemput ibu saya besok," ungkap Sofi dengan nada lega.
Rencananya, lansia tersebut akan dievakuasi sementara ke Rumah Sakit Sumber Waras guna menjalani tindakan hemodialisis. Dukungan transportasi ini sangat krusial mengingat akses dan kondisi di area pengungsian yang sangat terbatas bagi pasien dengan kondisi kritis.
Meski bantuan medis mulai mengalir, Sofi tetap menaruh harapan besar agar pemerintah memberikan perhatian lebih bagi kelompok rentan lainnya. Ia menekankan bahwa lingkungan pengungsian saat ini masih jauh dari kata ideal, terutama untuk proses pemulihan kesehatan jangka panjang.
Daftar kebutuhan mendesak bagi kelompok rentan di posko pengungsian Tambora :
- Layanan pemeriksaan medis rutin bagi lansia dengan penyakit kronis.
- Penyediaan susu khusus untuk balita dan anak-anak yang terdampak.
- Pasokan popok sekali pakai untuk kebutuhan harian bayi dan orang tua.
- Pendampingan psikologis bagi korban yang mengalami trauma atau syok berat.
- Fasilitas sanitasi yang lebih bersih dan memadai untuk mencegah penyakit menular.
Daftar kebutuhan di atas merupakan prioritas utama yang sangat diharapkan oleh para pengungsi agar kualitas hidup mereka tetap terjaga selama masa darurat. Kebutuhan logistik khusus seringkali lebih mendesak dibandingkan bantuan makanan umum yang sudah mulai tersedia.
Strategi Jemput Bola dari Puskesmas
Petugas medis dari Puskesmas Kecamatan Tambora, dr. Sendy, menyatakan bahwa timnya sudah menerapkan strategi proaktif di lapangan. Ia menegaskan komitmen pihaknya untuk memastikan setiap warga di tenda pengungsian mendapatkan akses kesehatan yang layak tanpa terkecuali.
Metode yang digunakan adalah dengan mendatangi langsung para pengungsi di setiap sudut posko untuk melakukan pemeriksaan fisik secara mendetail. "Kami turun langsung untuk memeriksa keluhan warga, mengobati luka fisik, dan mendistribusikan obat-obatan yang diperlukan," jelas dr. Sendy.
Ia menambahkan bahwa jika ditemukan warga dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, tim medis tidak akan ragu untuk segera merujuknya. Semua pasien yang dalam kondisi darurat atau membutuhkan peralatan spesialis akan langsung dievakuasi ke rumah sakit mitra terdekat.
Khusus mengenai pasien lansia yang harus menjalani cuci darah rutin, dr. Sendy memastikan koordinasi lintas instansi telah berjalan harmonis. Pihak Puskesmas Tambora terus memantau perkembangan pasien tersebut agar rangkaian pengobatan medisnya tidak terputus di tengah jalan.
Data dan persyaratan mobilisasi medis bagi pasien di wilayah bencana :
| Kategori Penanganan | Fasilitas yang Disediakan | Kriteria Pasien |
|---|---|---|
| Mobilisasi Rutin | Ambulans PK3D (Pusat Krisis) | Pasien cuci darah atau kontrol rutin |
| Penanganan Darurat | Unit Gawat Darurat Lapangan | Pasien dengan luka bakar atau cedera fisik |
| Rujukan Spesialis | Rumah Sakit Sumber Waras/Mitra | Pasien komplikasi ginjal dan jantung |
| Pendataan Ulang | Dinas Sosial & Dukcapil | Warga yang kehilangan dokumen medis/KTP |
Tabel tersebut merangkum sistem penanganan yang dijalankan oleh pemerintah daerah untuk membagi fokus perawatan berdasarkan tingkat risiko pasien. Dengan skema ini, setiap korban kebakaran mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan medis masing-masing secara efisien.
Dr. Sendy juga memberikan penjelasan tambahan mengenai prosedur rujukan bagi warga yang kehilangan surat-surat penting. Pihaknya akan tetap mengupayakan bantuan mobilisasi menggunakan ambulans dari Pusat Krisis dan Kegawatdaruratan Daerah (PK3D) meskipun dokumen fisik sudah tidak ada.
Sebelum dilakukan evakuasi atau mobilisasi ke rumah sakit, tim medis akan melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital secara berkala. Hal ini bertujuan untuk menjamin bahwa kondisi pasien dalam keadaan aman, stabil, dan siap untuk dipindahkan tanpa risiko kesehatan tambahan.
Hingga saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Sosial dan Puskesmas setempat terus bekerja keras memenuhi logistik dasar warga. Selain fokus pada kesehatan, petugas juga mulai melakukan pendataan ulang terhadap dokumen kependudukan yang hangus dilalap si jago merah.
Langkah pendataan ini sangat penting untuk memudahkan warga dalam mengurus administrasi kesehatan jangka panjang di masa mendatang. Dengan sinergi antar instansi, diharapkan beban warga Tambora yang terdampak musibah kebakaran ini dapat sedikit teringan secara bertahap.