Edukasi bertajuk Mengenal Bedah BariatrikÔÇôMetabolik untuk Obesitas digelar oleh RS Premier Bintaro untuk meningkatkan pemahaman medis masyarakat. Acara tersebut menghadirkan Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif Konsultan, Dr. dr. Errawan Wiradisuria, serta dihadiri oleh CEO RS Premier Bintaro, dr. Relia Sari.
Seperti dikutip dari Medcom, obesitas kini semakin dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan medis serius, bukan sekadar persoalan gaya hidup atau pola makan semata. Kondisi ini diketahui dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup seseorang.
Menurut dr. Errawan, berbagai organisasi kesehatan dunia seperti American Medical Association dan Canadian Medical Association telah mengategorikan obesitas sebagai penyakit kronis. Namun di Indonesia, obesitas masih sering dianggap hanya akibat pola hidup yang kurang sehat.
ÔÇ£Padahal obesitas hampir selalu disertai berbagai penyakit penyerta atau co-morbid yang dapat membahayakan kesehatan,ÔÇØ ujar dr. Errawan.Ia menjelaskan, bedah bariatrikÔÇômetabolik menjadi salah satu pendekatan medis modern yang dinilai efektif membantu pasien obesitas berat. Prosedur ini tidak hanya bertujuan menurunkan berat badan, tetapi juga memperbaiki gangguan metabolisme tubuh seperti diabetes dan hipertensi.
Dibandingkan metode konservatif seperti diet, olahraga, maupun obat-obatan, tindakan bedah bariatrik disebut mampu memberikan hasil penurunan berat badan yang lebih signifikan dan bertahan dalam jangka panjang. Manfaat utamanya meliputi penurunan berat badan yang stabil, perbaikan kualitas hidup, hingga menurunkan risiko penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
Pasien yang dapat menjalani prosedur ini umumnya memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 35. Kriteria lain adalah individu dengan BMI di atas 30 yang memiliki penyakit penyerta terkait obesitas dengan risiko tinggi, serta memiliki komitmen menjalani perubahan pola hidup sehat setelah operasi.
Dalam sesi edukasi tersebut, dr. Errawan turut menjelaskan sejumlah teknik bedah bariatrik modern yang kini berkembang, seperti Sleeve Gastrectomy (SG), Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), hingga One Anastomosis Gastric Bypass (OAGB).
Salah satu metode yang banyak dipilih adalah Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) karena prosedurnya dinilai lebih sederhana, memiliki risiko komplikasi lebih rendah, serta masa pemulihan yang lebih singkat.
Meski begitu, keberhasilan terapi tetap sangat bergantung pada kepatuhan pasien menjalani pola hidup sehat setelah operasi, termasuk menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengonsumsi vitamin sesuai anjuran dokter.
Tantangan Pembiayaan dan Status Medis
Prosedur bedah bariatrik hingga kini masih belum mendapat dukungan pembiayaan dari sebagian asuransi maupun BPJS. Salah satu penyebab kendala ini karena tindakan tersebut masih sering dianggap sebagai prosedur kosmetik.
Padahal sejak 2013, World Health Organization telah menetapkan obesitas sebagai penyakit karena berkaitan erat dengan berbagai komplikasi kesehatan serius, seperti hipertensi, obstructive sleep apnea, diabetes, gangguan hormonal, hingga nyeri sendi.
Masyarakat diimbau untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Melalui kegiatan edukasi ini, RS Premier Bintaro berharap masyarakat semakin memahami bahwa obesitas merupakan kondisi medis yang dapat ditangani secara tepat melalui pendekatan multidisiplin dan teknologi bedah modern.