Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 2026, Gunung Bromo Ditutup Total 4 Hari

Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 2026, Gunung Bromo Ditutup Total 4 Hari
Foto: Ritual Mendak Tirta Awali Yadnya Kasada 2026, Gunung Bromo Ditutup Total 4 Hari. (Illustration by Pexels)

Rangkaian ibadah suci Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 Masehi telah resmi dimulai. Prosesi ini diawali dengan ritual sakral Mendak Tirta yang berlangsung di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat (29/5/2026).

Pelaksanaan ritual ini membawa dampak langsung pada aktivitas pariwisata di kawasan Gunung Bromo. Untuk menghormati tradisi masyarakat Suku Tengger, kawasan wisata ikonik tersebut akan ditutup sementara bagi para pelancong umum selama empat hari penuh.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah menetapkan jadwal penutupan mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2026. Langkah ini diambil guna memastikan seluruh rangkaian upacara keagamaan dapat berjalan dengan tenang dan khidmat tanpa adanya gangguan dari aktivitas wisata.

Bambang Suprapto, selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, memberikan penjelasan mendalam mengenai makna di balik ritual ini. Menurutnya, Mendak Tirta merupakan tahapan yang sangat krusial dalam struktur tradisi Yadnya Kasada.

Ia menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol penyucian yang mendalam bagi diri manusia maupun alam semesta. Selain itu, prosesi ini menjadi sarana peribadatan utama bagi seluruh masyarakat Suku Tengger yang menetap di sekitar kawasan Bromo.

Dalam jalannya prosesi tersebut, puluhan warga Tengger terlihat berjalan kaki dengan penuh semangat menuju sumber mata air suci di kawasan Madakaripura. Tujuan utama mereka adalah mengambil tirta atau air suci yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual tinggi.

Air yang diambil dari sumber alami ini nantinya akan digunakan dalam upacara penyucian berbagai perangkat ibadah. Penyucian tersebut dilakukan sebagai persiapan matang menjelang puncak ritual Yadnya Kasada yang akan dipusatkan di Pura Luhur Poten, tepat di area Lautan Pasir Gunung Bromo.

Suasana selama ritual berlangsung sangat kental dengan nuansa sakral dan penuh keheningan. Acara dibuka dengan sesi doa bersama serta persembahan aneka sesaji berupa hasil bumi yang melimpah.

Persembahan hasil bumi tersebut merupakan wujud nyata rasa syukur masyarakat Tengger atas segala berkah yang mereka terima. Pemangku Desa Ngadas, Slamet, memimpin langsung jalannya doa dengan melantunkan mantra-mantra suci sebelum prosesi pengambilan air dimulai oleh para pandita dan tokoh adat setempat.

Berikut adalah poin penting mengenai sumber air sakral yang digunakan dalam ritual ini:

  • Kawasan Madakaripura: Lokasi utama pengambilan tirta bagi warga Tengger yang berasal dari wilayah Kabupaten Probolinggo.
  • Sumber Watu Klosot: Salah satu mata air sakral yang terletak di wilayah Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
  • Ranu Pane: Kawasan danau suci di Lumajang yang menjadi titik pengambilan tirta bagi masyarakat setempat.
  • Mata Air Widodaren: Sumber air suci yang berlokasi langsung di dalam kawasan pegunungan Bromo untuk warga wilayah Pasuruan.

Seluruh air suci yang diperoleh dari berbagai titik sakral tersebut kemudian akan dikumpulkan menjadi satu kesatuan. Tirta gabungan inilah yang memiliki peran penting untuk menyucikan seluruh perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum acara puncak dilaksanakan.

Bambang Suprapto menambahkan bahwa pengambilan tirta dilakukan secara serentak oleh masyarakat dari tiga wilayah administratif yang berbeda. Warga Probolinggo bergerak menuju Madakaripura, warga Pasuruan ke Widodaren, sementara warga Lumajang fokus di kawasan Ranu Pane.

Pemilihan Air Terjun Madakaripura sebagai lokasi sentral ritual memiliki dasar sejarah yang sangat kuat bagi identitas Suku Tengger. Tempat ini diyakini sebagai lokasi moksa atau tempat berpulangnya Patih Gajah Mada setelah masa pengabdiannya kepada Kerajaan Majapahit.

Berdasarkan catatan dalam Kitab Negarakertagama, Gajah Mada menerima tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk di wilayah ini. Keyakinan sejarah tersebut membuat masyarakat percaya bahwa sumber air di Madakaripura membawa keberkahan dan kesucian yang diwariskan langsung oleh para leluhur.

Pemerintah daerah melalui Camat Sukapura, Nur Rachmat Sholeh, menyatakan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi budaya ini. Menurutnya, pemerintah berkomitmen untuk menjaga warisan yang telah bertahan selama berabad-abad di tengah masyarakat Tengger.

Nur Rachmat menegaskan bahwa Mendak Tirta memiliki nilai spiritual dan nilai budaya yang sangat tinggi bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat sangat diperlukan agar tradisi ini tetap lestari dan bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Sebagai informasi tambahan, ritual Mendak Tirta juga menjadi pengingat akan legenda heroik Roro Anteng dan Joko Seger. Kisah ini merupakan akar filosofis dari pelaksanaan Yadnya Kasada yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini.

Tradisi ini dijalankan secara konsisten sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, upacara ini menjadi manifestasi penghormatan terhadap amanat para leluhur yang meminta anak cucu mereka tetap menjaga harmoni di bumi Tengger.

Puncak dari seluruh rangkaian Yadnya Kasada nantinya akan dipusatkan di Pura Luhur Poten dan bibir Kawah Gunung Bromo. Pada momen tersebut, masyarakat akan melakukan prosesi pelarungan hasil bumi ke dalam kawah sebagai puncak rasa syukur.

Pelarungan ini menjadi simbol pelepasan mahluk dan hasil bumi sebagai persembahan terbaik kepada alam dan Tuhan. Dengan dimulainya ritual Mendak Tirta, masyarakat Tengger kini bersiap memasuki periode spiritual paling penting dalam kalender adat mereka.

Informasi Mengenai Penutupan Kawasan Wisata Bromo 2026:

Keterangan Detail Informasi
Tanggal Penutupan 30 Mei – 2 Juni 2026
Alasan Penutupan Ritual Suci Yadnya Kasada 1948 Saka
Area Terdampak Seluruh Kawasan Wisata Gunung Bromo
Pihak Berwenang Balai Besar TNBTS

Tabel di atas merangkum jadwal penting bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Bromo agar dapat menyesuaikan agenda perjalanan mereka. Penutupan ini bersifat mutlak untuk menjaga kekhusyukan umat Hindu Tengger selama beribadah di area kawah dan pura.

Artikel terkait

Rekomendasi