Orang Tua Pekerja di Jakarta Hadapi Risiko Parental Burnout

Orang Tua Pekerja di Jakarta Hadapi Risiko Parental Burnout
Foto: Ilustrasi Orang Tua Pekerja di Jakarta Hadapi Risiko Parental Burnout.

Sejumlah orang tua pekerja di kota besar seperti Jakarta dilaporkan mengalami kondisi parental burnout atau kelelahan kronis dalam pengasuhan pada Jumat (17/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh akumulasi beban kerja profesional yang berlanjut pada tanggung jawab domestik tanpa jeda istirahat yang memadai.

Kondisi ini dialami oleh Sesa (34), seorang ibu dua anak di Jakarta Timur, yang mengaku menjalani rutinitas padat mulai pukul 04.30 WIB. Beban mental yang dipikulnya mencakup manajemen rumah tangga hingga pemenuhan kebutuhan logistik keluarga setiap hari, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

"Rutinitas saya jujur kayak nggak ada habisnya. Saya bangun jam 4.30 pagi. Kadang sebelum alarm karena udah kepikiran aja," kata Sesa saat dihubungi Kompas.com, Jumat (17/4/2026).

Sesa menjelaskan bahwa kepulangannya dari kantor bukan menjadi momen relaksasi, melainkan awal dari fase kedua pekerjaan mengurus anak dan tugas rumah tangga. Aktivitas tersebut sering kali baru berakhir menjelang tengah malam.

"Pulang kerja itu bukan istirahat. Saya sampai rumah langsung urus anak lagi. Anak minta ditemenin main, anak minta makan," ucap Sesa.

Tekanan yang konsisten membuat dirinya merasa berada pada posisi manajer rumah tangga yang harus mengantisipasi segala kebutuhan anggota keluarga. Dampaknya, Sesa mengaku pernah berada pada titik mati rasa secara emosional akibat keletihan yang ekstrem.

"Orang lihatnya saya cuma ngurus anak. Padahal saya mikirin semuanya, bahkan sebelum kejadian," kata Sesa.

Rasa lelah yang mendalam tersebut diungkapkan Sesa telah mencapai taraf di mana ia tidak lagi mampu mengekspresikan kesedihan melalui air mata.

"Saya merasa saya ini bukan cuma ibu, tapi kayak manajer rumah tangga," tutur dia.

Pernyataan tersebut merujuk pada beban mental (mental load) yang harus dipikul dalam mengatur jadwal dan kebutuhan harian seluruh anggota keluarga.

"Saya pernah sampai titik enggak bisa nangis lagi. Rasanya datar aja. Bangun, jalanin rutinitas, ulang lagi," kata dia.

Kondisi serupa dialami Dianova (36), seorang ibu tunggal di Jakarta Selatan yang bekerja sebagai kasir retail. Tanpa pendamping, ia harus membiayai seluruh kebutuhan hidup serta menanggung beban pengasuhan sendirian di tengah tekanan ekonomi.

"Kalau saya jujur ya, hidup saya itu kayak kerja terus," kata Dianova.

Sebagai satu-satunya tumpuan keluarga, Dianova tetap memaksakan diri bekerja meski dalam keadaan sakit karena tidak memiliki pilihan untuk beristirahat.

"Kalau saya capek, saya tetap harus jalan. Kalau saya sakit, saya nggak bisa rebahan," ujarnya.

Keterbatasan waktu membuatnya terpaksa menitipkan anak kepada tetangga, sebuah keputusan yang kemudian memicu konflik batin dan rasa bersalah terhadap tumbuh kembang buah hatinya.

"Kadang saya merasa bersalah banget, karena anak saya kayak dibesarkan sama orang lain," ucap Dianova.

Kesulitan ekonomi juga sempat memaksanya melakukan pinjaman uang guna menutupi biaya administrasi sekolah sang anak.

"Saya pernah pinjam uang untuk bayar uang daftar ulang sekolah," ujar dia.

Dianova mengkhawatirkan dampak emosional dari kelelahannya terhadap sang anak yang seharusnya mendapatkan rasa nyaman.

"Karena anak saya cuma punya saya. Harusnya saya jadi tempat nyaman. Tapi saya malah jadi orang yang bikin dia takut," tutur dia.

Dalam upaya meringankan beban, sebagian orang tua mulai memanfaatkan layanan penitipan anak meskipun terdapat keraguan awal mengenai keputusan tersebut.

"Saya tipe ibu yang merasa, ÔÇÿmasa sih anak gue dititipin ke orang lain?ÔÇÖ Tapi lama-lama saya sadar saya nggak punya pilihan," kata Sesa.

Sesa akhirnya melihat layanan ini sebagai solusi bantuan yang signifikan bagi kestabilan keluarga mereka.

"Daycare itu kayak penyelamat, walaupun mahal," ujarnya.

Pengelola Trust DayCare Jakarta Barat, Martha Mulyadani, membenarkan bahwa mayoritas pengguna jasanya adalah pasangan suami-istri yang keduanya bekerja.

"Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja..." kata Martha.

Ia menekankan bahwa meskipun daycare membantu, kolaborasi pengasuhan tetap diperlukan antara penyedia layanan dan orang tua.

"Daycare juga bukan satu-satunya tempat pendidikan anak. Harus ada kerja sama," ujar dia.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, memberikan perspektif bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh faktor struktural dan perubahan bentuk keluarga inti.

"Interaksi dengan anak menjadi kaku, mekanis, sering memberi perintah, melarang, dan anak cenderung menjauh dari orang tua," ujar Tuti.

Kelelahan yang tidak teratasi dinilai dapat menciptakan jarak emosional yang signifikan antara orang tua dan anak dalam jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi