Risiko Kesehatan Konsumsi Ikan Sapu Sapu dari Sungai Tercemar

Risiko Kesehatan Konsumsi Ikan Sapu Sapu dari Sungai Tercemar
Foto: Ilustrasi Risiko Kesehatan Konsumsi Ikan Sapu Sapu dari Sungai Tercemar.

Konsumsi ikan sapu sapu kembali memicu kekhawatiran publik setelah adanya temuan penangkapan ikan tersebut di anak Kali Ciliwung, Jakarta Pusat. Daging ikan ini diduga akan diolah menjadi bahan makanan seperti siomai.

Dilansir dari Detik Health, ikan sapu sapu secara teknis dapat dikonsumsi, namun habitat asalnya menjadi persoalan krusial. Spesies ini hidup di dasar perairan yang sering menjadi tempat pengendapan lumpur, sampah, hingga limbah berbahaya.

Ikan yang diambil dari aliran sungai perkotaan seperti Kali Ciliwung memiliki risiko kontaminasi yang sangat tinggi. Polutan lingkungan dapat membawa bakteri, parasit, hingga kandungan logam berat ke dalam jaringan tubuh ikan.

Ikan sapu sapu memiliki kerentanan tinggi terhadap mikroorganisme karena kebiasaan mencari makan di area endapan kotoran. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di sungai perkotaan memperparah risiko paparan bakteri patogen.

Berdasarkan hasil uji laboratorium Mutu International yang sempat viral melalui akun TikTok ariefkamarudin, sampel ikan sapu sapu dilaporkan mengandung bakteri E. coli yang sangat tinggi. Angka tersebut mencapai 100 kali lipat di atas batas Standar Nasional Indonesia (SNI).

Keberadaan E. coli dalam jumlah besar menjadi indikator adanya kontaminasi fekal. Paparan bakteri ini pada manusia dapat memicu gangguan kesehatan berupa diare, mual, muntah, kram perut, hingga demam tinggi.

Risiko infeksi yang lebih berat hingga memicu dehidrasi serius mengancam kelompok rentan. Kelompok ini meliputi anak-anak, lanjut usia, serta orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Kandungan Logam Berat dalam Daging Ikan

Studi yang diterbitkan dalam Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi tahun 2019 menyoroti kandungan kimia pada ikan dari Sungai Ciliwung. Daging ikan sapu sapu di wilayah Jakarta ditemukan mengandung berbagai jenis logam berat berbahaya.

Unsur kimia yang terdeteksi antara lain arsenik, kadmium, kromium, merkuri, timbal, hingga seng. Logam-logam ini berasal dari berbagai sumber seperti limbah industri, asap kendaraan, dan aktivitas rumah tangga yang mencemari sedimen sungai.

Paparan logam berat biasanya tidak langsung menunjukkan gejala setelah satu kali konsumsi. Namun, zat-zat berbahaya tersebut dapat menumpuk secara perlahan di dalam tubuh jika dikonsumsi secara berulang dalam jangka panjang.

Dalam tinjauan medis, penumpukan timbal secara kronis dikaitkan dengan gangguan pada sistem saraf dan tekanan darah. Sementara itu, akumulasi kadmium memiliki korelasi kuat terhadap kerusakan fungsi ginjal.

Bahaya Pengolahan yang Tidak Higienis

Ikan yang berasal dari perairan tercemar memerlukan proses pembersihan yang sangat ketat dan ekstra. Sisa lendir, isi perut, atau bagian tubuh yang terkontaminasi bisa membawa kuman jika tidak dibersihkan secara sempurna sebelum dimasak.

Ketika diolah menjadi produk gilingan seperti bakso atau siomai, kontaminasi kuman berpotensi menyebar ke seluruh adonan. Risiko keracunan makanan meningkat tajam jika proses pemanasan atau pemasakan tidak dilakukan secara merata.

Saluran pencernaan manusia biasanya akan bereaksi cepat terhadap pangan berkualitas buruk dengan gejala mulas, kembung, dan mual. Kondisi ini jika terjadi berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit penting.

Artikel terkait

Rekomendasi