Riset Oumi Temukan Celah Ketidakakuratan Google AI Overview

Riset Oumi Temukan Celah Ketidakakuratan Google AI Overview
Foto: Ilustrasi Riset Oumi Temukan Celah Ketidakakuratan Google AI Overview.

Fitur Google AI Overview atau ringkasan kecerdasan buatan yang berada di kolom teratas Google Search terbukti bisa menghasilkan jawaban dengan tingkat akurasi tinggi. Dilansir dari Tekno, riset terbaru menunjukkan bahwa teknologi ini mampu memberikan sembilan jawaban benar dari setiap sepuluh pertanyaan yang diajukan.

Meskipun memiliki tingkat akurasi yang terbilang baik, para pengguna diimbau untuk senantiasa berhati-hati saat mengonsumsi informasi yang disajikan. Pengguna disarankan tetap memeriksa kembali dan membandingkan informasi dari ringkasan AI tersebut dengan sumber-sumber lainnya.

Langkah pemeriksaan ulang ini penting dilakukan karena Google AI Overview masih memiliki celah ketidakakuratan seperti program kecerdasan buatan pada umumnya. Sejumlah pengguna bahkan telah melaporkan temuan terkait kesalahan informasi yang dihasilkan oleh fitur tersebut.

Google tidak lagi sekadar menyajikan daftar situs web yang relevan dengan kata kunci pencarian sejak Mei 2024. Melalui Google AI Overview, mesin pencari ini langsung merangkum informasi dari berbagai situs untuk menjawab pertanyaan pengguna secara cepat.

Perusahaan rintisan riset dan pengembangan AI bernama Oumi meneliti langsung tingkat keakuratan dari sistem ringkasan tersebut. Oumi menemukan bahwa satu dari sepuluh rangkuman yang dihasilkan oleh Google AI Overview masih mengandung kesalahan.

Celah ketidakakuratan yang terlihat kecil ini menjadi cukup mengkhawatirkan apabila dihitung berdasarkan volume pencarian global. Google memproses lebih dari lima triliun pencarian setiap tahunnya di seluruh dunia.

Oumi memproyeksikan bahwa dengan volume tersebut, Google berpotensi memberikan puluhan juta jawaban keliru setiap jam. Angka ini setara dengan ratusan ribu informasi tidak akurat yang tersebar setiap menit.

Temuan lain dari Oumi mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen informasi yang akurat ternyata tidak sesuai dengan referensi yang dicantumkan. Situs web yang menjadi rujukan Google AI Overview tidak sepenuhnya memuat informasi yang ditampilkan dalam ringkasan.

Pola Kekeliruan Gemini 2 dan Gemini 3

Oumi mengukur keakuratan sistem ini menggunakan alat uji benchmark bernama SimpleQA yang umum dipakai di industri kecerdasan buatan. Mereka menguji sistem AI Gemini yang menggerakkan fitur ringkasan Google tersebut dalam dua periode berbeda.

Pengujian pertama dilakukan pada Oktober tahun lalu menggunakan Gemini 2, sedangkan pengujian kedua berjalan pada Februari tahun ini memakai Gemini 3. Riset ini berfokus pada analisis terhadap 4.326 pencarian di Google.

Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan performa pada sistem kecerdasan buatan tersebut. Gemini 2 tercatat memiliki tingkat akurasi sebesar 85 persen, sementara Gemini 3 mengalami kenaikan hingga mencapai 91 persen.

Oumi juga memetakan beberapa pola kesalahan dari hubungan antara jawaban dan referensi yang ditautkan. Salah satu polanya adalah kesalahan interpretasi data meskipun Google AI Overview menggunakan sumber yang kredibel.

Sebagai contoh, sistem salah menyimpulkan letak geografis Sungai Neuse di perbatasan barat kota Goldsboro, North Carolina, yang seharusnya adalah Sungai Little. Pola lainnya menunjukkan sistem memberikan jawaban benar tetapi menyertakan konteks tambahan yang keliru secara berulang.

Tanggapan Google Terhadap Hasil Riset

Pihak Google pada dasarnya mengakui adanya potensi kekeliruan dalam produk ringkasan berbasis kecerdasan buatan mereka. Hal ini terlihat dari adanya label peringatan otomatis di dalam kolom ringkasan yang meminta pengguna untuk memeriksa kembali jawaban.

Namun, juru bicara Google Ned Adriance menilai bahwa riset yang dilakukan oleh Oumi memiliki kekurangan yang serius. Pihak Google mengkritik penggunaan alat uji benchmark buatan OpenAI yang dianggap tidak mencerminkan perilaku pencarian asli pengguna.

"Studi ini memiliki kekurangan serius. Ini tidak mencerminkan apa yang sebenarnya dicari orang di Google," kata Ned Adriance, sebagaimana dilansir dari The New York Times pada Rabu (6/5/2026).

Artikel terkait

Rekomendasi