Pemerintah Kabupaten Bandung merencanakan pembangunan asrama haji lokal untuk mempermudah mobilisasi jemaah asal wilayah tersebut menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Langkah ini diambil guna memangkas jarak tempuh jemaah yang selama ini harus singgah di asrama haji transit Indramayu sebelum terbang.
Bupati Bandung Dadang Supriatna menyatakan rencana tersebut muncul saat pelepasan 445 jemaah haji Kloter 24 KJT di Lanud Sulaiman pada Sabtu, 9 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Cahaya. Pihaknya kini tengah menjajaki komunikasi dengan DPR RI untuk mendapatkan dukungan anggaran atau hibah lahan dari pemerintah pusat.
"Tadi saya sudah komunikasi melalui grup WhatsApp dengan Kang Haji Cucun, beliau menyampaikan bahwa kalau seandainya ada lahan, maka akan ada asrama haji (dari pemerintah pusat)," katanya usai melepas keberangkatan 445 jemaah haji Kloter 24 KJT di Lanud Sulaiman, Sabtu (9/5/2026).
Pemerintah daerah saat ini fokus mencari lokasi yang representatif agar fasilitas tersebut dapat segera dibangun. Keberadaan asrama haji di tingkat kabupaten diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan serta efisiensi waktu bagi para tamu Allah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
"Insya Allah kita akan berupaya supaya ke depannya Kabupaten Bandung mempunyai asrama haji sendiri. Jadi, nanti dalam pelepasan tidak harus ke Indramayu dulu, tapi cukup di Kabupaten Bandung dan bisa langsung menuju bandara," ucapnya.
Selain masalah infrastruktur, Bupati Dadang juga menyoroti penurunan kuota haji Kabupaten Bandung yang cukup signifikan. Jumlah jemaah tahun ini tercatat sebanyak 547 orang, turun drastis dari periode tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 2.500 orang.
"Harapan kami ke depan kuota ini bukan menurun, bahkan harus meningkat. Semoga bisa mempercepat para calon jemaah haji yang waiting list. Kami juga tetap mengusulkan kepada kementerian terkait untuk adanya penambahan kuota ke depannya," tutur Dadang.
Data keberangkatan tahun ini menunjukkan komposisi jemaah didominasi oleh perempuan dan golongan lanjut usia. Tercatat jemaah paling senior berusia 94 tahun, sementara peserta termuda dalam rombongan kali ini berumur 14 tahun.
"Ada sekitar 80 orang jemaah lansia di atas 60 tahun. Sesuai tema haji tahun ini yang ramah lansia, disabilitas, dan perempuan, memang jumlah jemaah perempuan terpantau lebih banyak dibandingkan laki-laki," jelasnya.
Dadang menegaskan bahwa seluruh tim pendamping dan tenaga medis telah disiagakan dengan prosedur operasi standar yang ketat untuk mengawasi kondisi kesehatan jemaah. Pemantauan akan dilakukan secara berkelanjutan mulai dari keberangkatan hingga pelaksanaan puncak ibadah di Arafah.
"Kami dari pemerintah daerah akan terus berkomunikasi setiap saat, memantau kondisi di Mekkah dan Arafah hingga kepulangan nanti. Jika terjadi sesuatu, jemaah silakan berkoordinasi dengan petugas dan dokter yang sudah kami tugaskan," pungkasnya.