Sembilan warga negara Indonesia yang menjadi relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu sore setelah dievakuasi oleh Kementerian Luar Negeri dari penahanan militer Israel.
Pemulangan para relawan tersebut dilakukan melalui rute penerbangan Istanbul menuju Dubai pada Sabtu malam, kemudian dilanjutkan dari Dubai ke Jakarta pada Minggu pagi hingga mendarat sekitar pukul 15.30 WIB, sebagaimana dilansir dari Media Indonesia.
Kapal kemanusiaan yang mengangkut ratusan relawan internasional tersebut dicegat dan dibajak oleh militer Israel di perairan internasional pada 19 Mei 2026 sebelum para penumpangnya dipindahkan secara paksa.
Salah seorang relawan Indonesia, Ronggo Wirasanu, mengungkapkan bahwa armada mereka dihadang oleh kapal militer dan dua speedboat bersenjata yang kemudian melakukan perusakan terhadap kapal kemanusiaan tersebut.
"Mulai di-intercept itu tanggal 19 Mei. Ada kapal militer menghampiri kapal kami, lalu ada dua speedboat bersenjata. Kapal kami di-intercept, dibajak, dirusak," kata Ronggo.
Setelah pencegatan tersebut, seluruh relawan dipindahkan ke kapal militer Israel dan dibawa menuju Pelabuhan Ashdod untuk menjalani proses imigrasi, di mana mereka mulai mengalami kekerasan fisik.
"Kami mendapatkan pukulan, tendangan di kapal militer. Lalu dipindahkan lagi ke Pelabuhan Ashdod untuk mengurus imigrasi, dan di sana kami mendapatkan pukulan kembali," ujar Ronggo.
Dari Pelabuhan Ashdod, para relawan kemudian dipindahkan lagi ke lokasi penahanan yang berada di wilayah Negev, bagian selatan Israel.
"Penyiksaan, kekerasan terus dilakukan oleh tentara Zionis. Hampir terhadap 400-an orang itu mendapatkan perlakuan yang sama," kata Ronggo.
Jurnalis Republika yang turut menjadi relawan dalam misi tersebut, Thoudy Badai, menyatakan rasa syukurnya dapat kembali ke tanah air dengan selamat meskipun harus melewati pengalaman pahit.
"Apa yang saya alami dan teman-teman alami, kekerasan dan kesedihan yang dilakukan Zionis Israel itu tidak sebanding dengan apa yang dialami ribuan tahanan Palestina, yang kebanyakan anak-anak, ibu-ibu, dan ibu hamil," ungkap Thoudy.
Kendati mendapatkan perlakuan keras selama masa penahanan, Thoudy menegaskan bahwa peristiwa ini tidak akan menghentikan langkahnya untuk menyuarakan kondisi di Palestina.
"Saya harap semua masyarakat di dunia tetap dukung, tetap suarakan isu Palestina karena dengan begitu bisa mendorong Palestina untuk terus merdeka," tutur Thoudy.