Penyedia solusi perangkat lunak Red Hat memperingatkan perusahaan mengenai risiko inefisiensi biaya akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan secara reaktif dan tidak terukur pada Kamis (30/4/2026). Korporasi perlu mengidentifikasi masalah secara spesifik sebelum mengimplementasikan solusi teknologi tersebut.
Dilansir dari Teknologi, pemanfaatan AI berbasis sumber terbuka di industri finansial Indonesia juga berpotensi memicu pemborosan akibat adanya celah besar dalam sistem. Red Hat menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang membuat adopsi teknologi dilakukan terburu-buru tanpa tujuan fungsional.
Country Manager Red Hat Indonesia, Vonny Tjiu, menekankan pentingnya standar kesiapan korporasi bagi perusahaan pengguna open source guna menghindari risiko sistemik. Teknologi baru harus bisa terintegrasi dengan sistem lama agar tidak mengganggu operasional yang merugikan perusahaan secara finansial.
ÔÇ£Investasi teknologi informasi perusahaan harus dapat diintegrasikan dengan lapisan AI secara mulus tanpa mengganggu operasional inti,ÔÇØ kata Vonny Tjiu, Country Manager Red Hat Indonesia.
Vonny menambahkan bahwa fokus utama implementasi teknologi adalah mitigasi risiko dan peningkatan produktivitas. Selain itu, talenta lokal diharapkan mampu memproduksi AI secara mandiri untuk mendukung proyeksi kontribusi ekonomi digital Indonesia sebesar 40 persen di Asia Tenggara pada 2030.
Di sektor pembiayaan, PT Bussan Auto Finance (BAF) mengakui kompleksitas manajemen aplikasi pascapandemi menjadi tantangan besar. Director BAF, Yudono, mengungkapkan perusahaan sempat mengalami kendala teknis akibat salah konfigurasi pada server yang menghambat pekerjaan.
ÔÇ£Kami melakukan transformasi untuk mengurangi kendala tersebut melalui otomatisasi,ÔÇØ kata Yudono, Director Bussan Auto Finance (BAF).
Sebagai langkah solusi, BAF berkolaborasi dengan Red Hat OpenShift dan Ansible untuk mengotomatisasi infrastruktur hybrid cloud. Langkah ini diambil untuk memberikan perlindungan maksimal yang sesuai dengan regulasi berlaku di Indonesia.
Sementara itu, PT Pegadaian menghadapi tantangan ketergantungan pada sistem monolitik warisan masa lalu. Head of Enterprise Architecture PT Pegadaian, Ronald Hariyanto, menjelaskan bahwa transformasi dilakukan guna mendukung layanan bank emas yang kini mengandalkan infrastruktur berbasis Linux.
Selain perombakan arsitektur, Pegadaian mengembangkan kerangka kerja berbasis obrolan bernama Cindy untuk mempermudah teknisi. Sistem otomasi ini dirancang untuk memperbaiki gangguan jaringan dan server secara presisi dari jarak jauh tanpa harus hadir secara fisik.
Inisiatif teknologi ini diklaim berhasil menjaga stabilitas performa aplikasi perusahaan. Dampak lainnya adalah penekanan jam lembur teknisi yang selama ini menjadi beban operasional, sehingga meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan tim di internal Pegadaian.