Mantan Ratu Denmark, Margrethe II, dilaporkan telah menjalani prosedur medis angioplasti di Rumah Sakit Rigshospitalet. Tindakan intervensi ini dilakukan guna menangani penyumbatan pada pembuluh darah arteri jantung.
Kondisi kesehatan sang ratu saat ini berada dalam pemantauan ketat oleh tim medis, seperti dikutip dari Media Indonesia. Pihak Istana Denmark mengonfirmasi bahwa keadaan Margrethe II saat ini dalam kondisi yang stabil pasca-tindakan.
Secara medis, angioplasti merupakan metode non-bedah yang bertujuan membuka pembuluh darah arteri yang menyempit. Penyempitan ini umumnya dipicu oleh akumulasi plak kolesterol, sebuah kondisi yang dalam dunia kedokteran disebut aterosklerosis.
Tindakan medis ini dilakukan oleh dokter spesialis jantung intervensi melalui sejumlah langkah klinis. Proses awal dimulai dengan kateterisasi, yaitu memasukkan selang tipis fleksibel atau kateter lewat pembuluh darah lengan atau pangkal paha.
Setelah kateter mencapai titik penyumbatan di jantung, komponen balon kecil pada ujungnya akan dikembangkan. Proses pengembangan ini berfungsi meregangkan dinding arteri yang mengalami penyempitan agar kembali lebar.
Pada sebagian besar kasus, dokter juga bakal memasang stent atau cincin penyangga yang bersifat permanen. Pemasangan ring ini bertujuan memastikan saluran arteri tetap terbuka secara optimal sehingga aliran darah ke otot jantung kembali lancar.
Pertimbangan Medis untuk Pasien Lanjut Usia
Elastisitas pembuluh darah manusia secara alami akan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya risiko penumpukan plak di dalam saluran arteri.
Prosedur angioplasti menjadi pilihan utama bagi pasien lansia karena sifatnya yang minim sayatan atau minimally invasive. Metode ini menawarkan tingkat risiko komplikasi yang jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan operasi bedah jantung terbuka.
Manfaat utama dari tindakan ini adalah memulihkan aliran darah ke organ jantung secara instan. Selain itu, prosedur ini efektif meredakan gejala nyeri dada atau angina sekaligus meminimalkan risiko serangan jantung yang fatal.
Melalui penerapan teknologi kedokteran modern di Rigshospitalet, tingkat keberhasilan intervensi ini tercatat sangat tinggi. Masa pemulihan pasien juga berlangsung lebih cepat jika dibandingkan dengan metode operasi bypass.
Meskipun tergolong aman, intervensi medis ini tetap memiliki beberapa risiko penyerta. Pasien berisiko mengalami memar pada titik masuknya kateter, reaksi alergi zat kontras, hingga cedera arteri dalam kasus yang jarang.
Fokus utama dari tim dokter Rigshospitalet saat ini adalah mengawal fase pemulihan awal mantan ratu. Penanganan medis difokuskan untuk mengantisipasi dan mencegah munculnya komplikasi pasca-prosedur di rumah sakit.