Rahmi Syofia yang kini populer dengan sapaan Mimi Campervan memutuskan untuk meninggalkan stabilitas karier profesionalnya demi menjalani kehidupan baru di jalanan. Keputusan tersebut diambil untuk menuntaskan misi perjalanan berkeliling Indonesia menggunakan kendaraan yang dimodifikasi menjadi hunian atau campervan.
Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, transformasi hidup ini bermula dari kejenuhan Rahmi terhadap rutinitas pekerjaan yang telah ia jalani sejak tahun 2010. Perjalanan panjangnya mengelilingi nusantara saat ini merupakan bentuk refleksi mendalam atas pengalaman masa lalunya sebagai pegawai kantoran.
Mimi menjelaskan bahwa pola hidupnya terdahulu sangat monoton dan didominasi oleh beban kerja yang berat tanpa menyisakan waktu untuk diri sendiri. Ia merasa terjebak dalam siklus pekerjaan yang menghabiskan seluruh energinya hingga akhir pekan.
"Dulu hidupnya, aktivitasnya bener-bener kayak karyawan biasa aja, Senin-Jumat kerja kadang sampai malam, lembur-lemburan. Sabtu-Minggu udah capek, udah nggak ada waktu," kata Mimi.
Perempuan yang pernah bekerja di Jakarta, Bali, hingga Malang ini mulai mempertanyakan makna hidupnya saat memasuki masa pandemi COVID-19. Kondisi krisis kesehatan global tersebut menjadi momentum bagi dirinya untuk mengevaluasi prioritas dan keinginan pribadinya secara menyeluruh.
Tekanan psikologis akibat pandemi serta hilangnya beberapa rekan sejawat memberikan dampak signifikan terhadap sudut pandang Mimi mengenai masa depannya. Pada usia 35 hingga 36 tahun, ia memantapkan diri untuk berhenti bekerja dan memilih jalur traveling.
"Pas ketika udah di Bali (pandemi) ngerasain 'aduh hidup begini-gini aja ya' gitu.Waktu itu umur di 35-36 tahunan, ngerasa kayaknya aku udah deh berhenti aja bekerja aku mau traveling, mulainya itu karena ngerasain pas pandemi. Ngerasa banyak hal yang terjadikan di fase itu, ada teman yang meninggal lah, perubahan sangat drastis siapapun ke-impact gitu, nah salah satunya aku yang merubah pandangan hidupku," tutur Mimi.
Sebelum akhirnya menggunakan campervan, ia sempat memanfaatkan sepeda motor untuk menjelajahi berbagai wilayah di Bali. Kini, ia fokus membangun identitas barunya sebagai pengelana yang mencari makna lebih dalam dari sekadar mencari nafkah untuk bertahan hidup.