Candi Borobudur menyimpan rahasia konstruksi modern di balik kemegahan arsitektur kunonya. Bangunan cagar budaya ini ternyata memiliki lapisan beton yang tertanam di dalam struktur tubuhnya.
Dilansir dari Kompas, keberadaan material beton tersebut merupakan bagian dari langkah penyelamatan struktur. Keputusan ini diambil setelah melalui kajian mendalam oleh para ahli internasional.
Ancaman kerusakan serius mulai terlihat pada akhir tahun 1960-an. Saat itu, rembesan air merusak susunan batu dan menyebabkan kondisi tanah dasar candi semakin melemah.
Para ahli mengkhawatirkan kestabilan bangunan akan runtuh jika tidak segera ditangani. Berbagai metode pemugaran, termasuk opsi teknis yang ekstrem, sempat dipertimbangkan untuk menyelamatkan situs ini.
Nasib Borobudur ditentukan dalam pertemuan di Yogyakarta pada 18-19 Januari 1971. Pertemuan yang diprakarsai UNESCO tersebut melibatkan para ahli dari berbagai negara.
Kesepakatan tersebut menetapkan rencana kerja dari NEDECO, konsultan teknik yang ditunjuk UNESCO, sebagai dasar pemugaran. Proyek restorasi besar ini kemudian dikenal sebagai Pemugaran II Borobudur.
Selama hampir satu dekade, tim ahli memasang beton di bagian dalam struktur. Namun, material ini tidak menggantikan batu asli, melainkan berfungsi sebagai penguat sistem internal bangunan.
Sistem Penguat Tersembunyi
Terdapat tiga elemen utama yang dipasang dalam struktur. Pertama adalah pelat beton atau concrete slab yang ditempatkan mengelilingi lorong di setiap tingkat candi.
Pelat ini disembunyikan di bawah lantai batu asli. Fungsinya sangat krusial untuk meratakan beban bangunan, memperkuat titik lemah, serta menahan tekanan air dari dalam.
Elemen kedua melibatkan pemasangan lapisan kedap air dan sistem drainase. Komponen ini diletakkan secara strategis di atas maupun di bawah lapisan pelat beton.
Sistem tersebut dirancang untuk mengalirkan air hujan keluar dari tubuh candi secara efektif. Hal ini bertujuan mencegah rembesan air yang menjadi pemicu utama kerusakan batu selama bertahun-tahun.
Ketiga, tim memasang saluran air vertikal dan horizontal yang menghubungkan antar tingkat. Seluruh sistem teknis ini disembunyikan rapi di balik susunan batu agar tidak merusak visual asli Borobudur.
Metode Bongkar Pasang Tanpa Semen
Proses pemugaran dilakukan dengan membongkar seluruh batu candi satu per satu. Batu-batu tersebut kemudian dibersihkan dan diawetkan sebelum dikembalikan ke posisi semula.
Uniknya, pemasangan kembali batu-batu tersebut tetap menghindari penggunaan semen atau angkur besi pada bagian luar. Prinsip ini dijalankan demi menjaga autentisitas struktur batu asli Borobudur.
Restorasi besar ini menjadi titik temu antara upaya menjaga keaslian warisan budaya dan kebutuhan menjamin keselamatan bangunan. Borobudur kini tetap kokoh berdiri sebagai warisan dunia yang berharga.