Arus kedatangan jemaah haji asal Indonesia di Madinah, Arab Saudi, terus meningkat dengan total mencapai 43.812 orang hingga Selasa (28/4/2026) sore. Mayoritas jemaah yang tiba melalui Bandara AMAA didominasi oleh kelompok lanjut usia yang memerlukan perhatian kesehatan intensif selama proses kepulangan dan ibadah.
Data yang dihimpun dari Media Center Haji menunjukkan bahwa rombongan tersebut terbagi ke dalam 113 kelompok terbang (kloter). Dilansir dari Detikcom, porsi jemaah lansia dalam gelombang kedatangan ini tercatat menyentuh angka lebih dari sembilan ribu orang atau setara dengan seperlima dari total populasi jemaah yang sudah mendarat.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, memberikan rincian angka terbaru mengenai mobilitas jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Penegasan mengenai jumlah kloter dan individu tersebut disampaikan langsung di kawasan bandara saat memantau proses debarkasi.
"Untuk update kedatangan jemaah haji Indonesia sampai dengan pukul 6 sore waktu Arab Saudi, saat ini sudah landing sebanyak 113 kloter dengan jumlah jemaah 43.812," kata Basir, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara.
Basir kemudian memaparkan komposisi jemaah lansia yang memerlukan pengawasan khusus dari tim medis dan petugas lapangan. Hal ini berkaitan dengan rasio jemaah berisiko tinggi yang cukup besar dalam musim haji tahun ini.
"Sedangkan untuk jemaah lansia totalnya ada 9.206 orang. Kalau diperkirakan sekitar ada 20 persen dari jemaah kita itu merupakan jemaah kategori lansia," tambah Basir, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara.
Selain masalah fisik, petugas mulai mengidentifikasi gejala disorientasi dan demensia pada beberapa jemaah akibat kelelahan ekstrem setelah menempuh perjalanan udara belasan jam. Kondisi kesehatan ini diduga kuat berkaitan erat dengan kebiasaan konsumsi cairan yang rendah selama berada di dalam pesawat.
Abdul Basir menyoroti masalah kurangnya asupan air minum sebagai pemicu utama menurunnya kondisi fisik jemaah saat pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi. Penurunan pasokan oksigen menjadi dampak langsung dari dehidrasi tersebut.
"Penyebab utamanya karena mungkin kurangnya konsumsi air ya, kurang minum, sehingga menyebabkan pasokan oksigen berkurang," jelas Basir, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara.
Faktor lain yang memperberat kondisi jemaah adalah pengalaman pertama melakukan perjalanan lintas benua yang sangat menguras tenaga. Kelelahan yang terakumulasi membuat fisik jemaah rentan mengalami gangguan fungsi tubuh secara mendadak.
"Dan bisa jadi karena jemaah-jemaah ini belum pernah melakukan perjalanan yang panjang, yang melelahkan, sehingga ketika mereka sampai di tempat dengan kondisi fisik yang lelah mengalami sedikit gangguan," pungkas Basir, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara.